Senin, 31 Juli 2017

Sejarah Peradaban Lembah Sungai Nil

PERADABAN MESIR KUNO
Mesir merupakan satu-satunya pusat kebudayaan tertua di benua Afrika yang berasal dari tahun 4000 SM. Hal ini diketahui melalui penemuan sebuah batu tulisdidaerah Rosetta oleh pasukan Perancis yang dipimpin Napoleo Bonaparte. Batu tulis itu berhasil dibaca oleh seorang Perancis yang bernama Jean Francois Champollion (1800)Sehingga sejak tahun itu terbukalah tabir sejarah Mesir Kuno yang berasal dari tahun4000 SM.
Periode Zaman Purba dan pra sejarah (sebelum mengenal tulisan)
Riset arkeologis intensif setelah bertahun-tahun, membuka banyak rahasia tentang Mesir zaman purba dan prasejarah. Pemahaman kita atas peradaban Mesir kini bisa ditelusuri melewati sekuens perkembangan yang panjang hingga tahun 5000 SM dan lebih awal, hampir 2000 tahun sebelumDinasti ke-1 Mesir. Kita telah menemukan, bahkan sebelum 5000 SM, bukti tentang komunitas awal kaum pemburu-pengumpul di sepanjang Lembah Nil dan di pesisir Danau Qarun diFayoum, serta tentang penduduk palaeolithic yang hidup sekitar 300.000 tahun lalu.
Periode Zaman Sejarah (Telah mengenal tulisan)
Proses tersebut berawal dari tahun 4000 SM namun pada tahun 3400 SM seorang penguasa bernama Menes mempersatukan kedua kerajaan Mesir Hilir dan Mesir Hulu menjadi satu kerajaan Mesir yang besar. Mesir merupakan sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja yang bergelar Firaun. Ia berkuasa secara mutlak. Firaun dianggap dewa dan dipercaya sebagai putera Dewa Osiris. Seluruh kekuasaan berada ditangannya baik sipil, militer maupun agama.
Sejak tahun 3400 SM sejarah Mesir diperintah oleh 30 dinasti yang berbeda yang terdiri dari tiga jaman yaitu Kerajaan Mesir Tua yang berpusat di Memphis, Kerajaan Tengah di Awaris dan Mesir Baru di Thebe.
Pembagian Kerajaan Mesir Tua, Tengah, dan Mesir Baru

1.      Kerajaan Mesir Tua (2660 – 2180 SM)

Kerajaan Mesir Tua disebut jaman piramida karena pada masa inilah dibangun piramida-piramida terkenal misalnya piramida Sakarah dari Firaun Joser. Piramida di Gheza adalah makam Firaun Cheops, Chifren dan Menkawa. Lahirnya kerajaan Mesir Tua setelah Menes berhasil mempersatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Sebagai pemersatu ia digelari Nesutbiti dan digambarkan memakai mahkota kembar. 
Runtuhnya Mesir Tua disebabkan karena sejak tahun 2500 SM pemerintahan mengalami kekacauan.Bangsa-bangsa dari luar misalnya dari Asia Kecil melancarkan serangan ke Mesir. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri.Akhirnya terjadilah perpecahan antara Mesir Hilir dan Mesir Hulu.

2.      Kerajaan Mesir Tengah (1640 – 1570 SM)

Kerajaan Mesir Tengah dikenal dengan tampilnya Sesotris III.Ia berhasil memulihkan persatuan dan membangun kembali Mesir. Tindakannya antara lain membuka tanah pertanian, membangun proyek irigasi, pembuatan waduk dan lain-lain. Ia meningkatkan perdagangan serta membuka hubungan dagang dengan Palestina, Syria dan pulau Kreta. Sesotris III juga berhasil memperluas wilayah ke selatan sampai Nubia (kini Ethiopia).Sejak tahun 1800 SM kerajaan Mesir Tengah diserbu dan ditaklukkan oleh bangsa Hyksos.
Setelah zaman Kerajaan tengah, Mesir melemah dan terpecah belah dikuasai selama 100 tahun oleh bangsa Hiksos dari Kanaan. Mereka menguasai Mesir Bawah di bagaian utara. Sekitar 1550 SM, satu keluargabangsa Mesir Atas bangkit dan mengusir bangsa Hiksos serta menyatukan kembali seluruh negeri. Pada 1532 SM, mereka mencatat keberhasilan. Ahmose mendirikan dinasti ke-18 dan menjadi fiaun pertama di Kerajaan Baru, yaitu zaman keemasan Mesir.

3. Kerajaan Mesir Baru (1570 - 1070 SM)

Salah satu firaun pertama, Thutmosis I, menaklukan Palestina dan daerah di sebelah barat Eufrat sekitar tahun 1500 SM. Selama pemerintahan Amenhotep III, Kerajaan Baru dengan ibukota Thebes, mencapai zaman kemakmuran. Para petani dan pekerja hidup sederhana, sedangkan kaum bangsawan hidup mewah. Menurut hukum, pria dan wanita berkedudukan setara. Kaum wanita juga boleh memiliki harta benda. Kaum wanita boleh menekuni satu dari empat profesi: pendeta wanita, dukun beranak, penari, atau peratap. Selain kaum bangsawan, para juru tulis dan pendeta adalah jabatan terpenting dalam masyarakat Mesir.
·         Akhenaten

Penguasa yang paling unik adalah Amenhotep IV (1353-35 SM). Ia menjadikan Aten, sang Matahari, sebagai dewa tunggal Mesir, dan berusaha mengubah agama orang Mesir dengan menyingkirkan banyak dewa lain dan tradisinya yang rumit. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten dan membangun ibukota baru di El-Amarna guna menghormati Aten. Pemaisurinya, Nefertiti, bukan keturunan bangsawan, dan bisa jadi bukan orang Mesir. Ketika Akhenaten wafat, para pendeta dewa lama kembali berkuasa, dan melarang penyembahan atas Aten. Nama Akhenaten disingkirkan dari semua monumen dan catatan. Kota baru yang dibangunnya ditinggalkan dan Akhenaten dianggap seolah tidak pernah ada.
·         Tutankhamun

Kebanyakan penguasa Kerajaan Baru dimakamkan di Lembah Raja – Raja, di makam batu yang di pahat dalam. Namun, makam – makam ini telah dijarah banyak penjahat. Hanya satu makam yang selamat hingga zaman moderen, yaitu makam Raja Tutankhamun, pengganti Akhenaten yang wafat sebelum usia 20 tahun. Mesir tetap kuat, khususnya dibawah pemerintahan Seti I dan anaknya Ramesses II yang agung dari dinasti ke-19 (1307-1196 SM). Namun, setelah diperintah oleh sejumlah penguasa lemah , para para pendeta mengambil alih kekuasaan, dan Mesir jatuh ke tangan banyak penguasa asing. Bangsa Yunani menaklukan Mesir dan berkuasa hingga 300 tahun. Lalu, Mesir menjadi wilayah Romawi. Akibatnya, sejarah dan tulisan Mesir terlupakan.

Sistem Kepercayaan Peradaban Mesir Kuno

Agama pada awal masa Mesir Kuno menganut kepercayaan Politeisme yaitu menyembah kepada dewa – dewa. Diantaranya memiliki perannya masing – masing yaitu:
1.      Horus adalah dewa langit dan rohnya mendiami firaun yang hidup. Matanya adalah matahari dan bulan.
2.      Ptah, dewa pencipta, pencipta kesenian. Ia merupakan dewa lokal di ibukota, Memphis.
3.      Hathor, dewi cinta dan kecantikan. Tanduknya mengankat sang matahari ke surga.
4.      Isis, saudari dan istri Osiris, adalah ibu dari Horus. Ia memiliki kekuatan sihir hebat.
5.      Re-Horakhty, gabungan dari dewa matahari dan Horus, ditunjukan dengan matahari berkepala elang.
6.      Osiris adalah dewa maut. Kerajaannya terdapat di barat. Ia menghakimi jiwa manusia menurut pahala yang mereka kumpulkan.
Pada kekuasaan Amenhotep IV (1353-35 SM). Ia menjadikan Aten, sang Matahari, sebagai dewa tunggal Mesir, dan berusaha mengubah agama orang Mesir dengan menyingkirkan banyak dewa lain dan besistem kepercayaan Monoteisme menyembah kepada satu dewa. Lalu setelah ia meninggal para pendeta mengambil alih kekuasaan dan kembali pada kepercayaan Politeisme.

Peninggalan Peradaban Mesir
1.      Jimat

Orang Mesir semang mengenakan jimat. Jimat favorit mereka adalah sosok kumbang besar yang diukir dari batu. Kumbang besar dipuja sebagai penghormatan kepada dewa matahari, Re.
2.      Papirus


Papirus adalah kertas kaku yang dibuat dari buluh papirus. Orang mesir merekatkan lembaran menjadi gulungan perkamen. Tulisan hieroglif bidang administrasi dan keagamaan dituliskan dengan tangan.

3.      Piramida

Sejarah sekitar 2630 SM, orang Mesir membangun banyak piramida. Yang paling terkenal adalah piramida besar di Giza. Tidak seorang pun tahu mengapa bentuk itu yang dipilih. Skala dan dimensinya menunjukan bagian tujuan astronomi, matematis dan spiritual. Dengan membangun monumen besar seperti itu, para firaun berusaha menyenangkan para dewa dan mewariskan peninggalan penting dalam sejarah. Beberapa blok batu panjang di atas ruangan raja memiliki berat hingga 60 ton.
Piramida besar, salah satu piramida yang terdapat di Giza dan makam Firaun Khufu, memiliki lorong dan ruang misterius yang panjang. Pembangunan piramida membutuhkan keterampilan tinggi. Dibutuhkan waktu lebih dari 30 tahun untuk membangun piramida Besar di Gazi.
Upacara Pemakaman para firaun Mesir sangat rumit. Gambar ini menunjukan arak – arakan jenazah firaun yang tiba di Abusir, Sungai Nil, pada tahun 2500 SM. Proses itu memasuki Lembah Kuil. Jenazah yang sudah dibalsem dibawa naik ke jembatan yang menuju piramida.

PENINGGALAN DARI GENERASI KEGENERASI
1.      Pengawetan Mayat (Ilmu Forensik)

Pada zaman Mesir Kuno, jenazah dibuat mumi dengan cara dibalsem. Dengan cara ini, Zorang yang telah meninggal dipercaya hidup selamanya. Mumi dimasukan ke sebuah peti mati yang biasanya dihiasi mewah. Sampai sekarang metode pengawetan mayat masih digunakan untuk membuat mayat tidak cepat busuk. Seperti di rumah sakit, adat masyarakat, dan sebagai tradisi turun temurun masih digunakan sampai sekarang.

2.      Sistem Kalender

Masyarakat Mesir mula-mula membuat kalender bulan berdasarkan siklus (peredaran) bulan selama 291/2 hari.Karena dianggap kurang tetap kemudian mereka menetapkan kalender berdasarkan kemunculan bintang anjing (Sirius) yang muncul setiap tahun. Mereka menghitung satu tahun adalah 12 bulan, satu bulan 30 hari dan lamanya setahun adalah 365 hari yaitu 12 x 30 hari lalu ditambahkan 5 hari. Mereka juga mengenal tahun kabisat. Penghitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan sekarang yang disebut Tahun Syamsiah (sistem Solar).Penghitungan kalender Mesir dengan sistem Solar kemudian diadopsi (diambil alih) oleh bangsa Romawi menjadi kalender Romawi dengan sistem Gregorian. Sedangkan bangsa Arab kuno mengambil alih penghitungan sistem lunar (peredaran bulan) menjadi tarik Hijriah. 
3.      Seni Arsitektur

Dari peninggalan bangunan-bangunan yang masih bisa disaksikan sampai sekarang menunjukkan bahwa bangsa Mesir telah memiliki kemampuan yang menonjol di bidang matematika, geometri dan arsitektur. Peninggalan bangunan Mesir yang terkenal adalah piramida dan kuil yang erat kaitannya dengan kehidupan keagamaan. Piramida dibangun untuk tempat pemakaman Firaun.Arsitek terkenal pembuat piramida adalah Imhotep. Ilmu arsiterkur sampai sekarang masih digunakan seperti gedung perkantoran, geding pencakar langit, dan bangunan-bangunan lain yang memiliki pondasi yang hebat.

Peradaban Mesopotamia

Mesopotamia

Peta yang menunjukkan wilayah Mesopotamia

Mesopotamia (dari bahasa Yunani Kuno: Μεσοποταμία: tanah di antara sungai-sungai; Arab: بلاد الرافدين‎ (bilād al-rāfidayn); bahasa Suryani: ܒܝܬ ܢܗܪܝܢ (Beth Nahrain): "tanah dari sungai-sungai" terletak di antara dua sungai besar, Efrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu pada zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di antara sungai-sungai". Dengan bidang tanah yang panjang dan sempit berbentuk seperti bulan sabit dan tanahnya yang subur, daerah ini juga disebut "Bulan Sabit Subur". Nama Mesopotamia sudah digunakan oleh para penulis Yunani dan Latin kuno, seperti apa Polybius (abad 2 SM) dan Strabo (60 SM-20 M). Tanah subur ini telah menumbuhkan banyak peradaban kuno yangg megah yang secara kolektif dikenal sebagai sebagai peradaban Mesopotamia. Inilah peradaban paling awal di Asia Barat dan salah satu yang tertua di dunia.
Menurut keyakinan Kristen dan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham (yang lalu disebut "Bapa Orang Beriman" dan diakui oleh tiga agama monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi ) dengan Mesopotamia. Dalam kitab Kejadian 11:31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur Kaśdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Daerah Israeldan Palestina sekarang). Lokasi Ur Kaśdim biasanya dirujuk pada Tell el-Muqayyar, situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Sedangkan Haran terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Efrat.


Peta yang menunjukkan sistem sungai Tigris-Efrat, yang mendefinisikan Mesopotamia
Toponimi daerah Mesopotamia berasal dari akar kata Yunani Kuno μέσος (mesos) "tengah" dan ποταμός (potamos) "sungai" dan secara harfiah berarti "(negeri) di antara sungai-sungai". Toponimi ini digunakan dalam Septuagintayang berbahasa Yunani itu (ca. 250 SM) sebagai terjemahan dari padanannya dalam bahasa Ibrani Naharaim. Toponimi ini bahkan sudah lebih awal lagi digunakan oleh bangsa Yunani sebagaimana yang dibuktikan dengan Anabasis Alexandri, yang ditulis pada akhir abad ke-2 Masehi, namun secara khusus mengacu pada sumber-sumber dari zaman Alexander Agung. Dalam Anabasis, Mesopotamia digunakan untuk menyebut wilayah yang membentang di timur Sungai Efrat di utara Suriah. Istilah Aram biritum / birit Narim berhubungan dengan konsep geografis serupa.           Kemudian, istilah Mesopotamia itu lebih umum diterapkan untuk semua tanah antara sungai Efrat dan Tigris, sehingga menggabungkan tidak hanya bagian dari Suriah tetapi juga hampir semua Irak dan Turki tenggara. Dataran stepa di sebelah barat sungai Efrat dan bagian barat Pegunungan Zagros juga sering termasuk dalam istilah yang lebih luas Mesopotamia. Perbedaan lebih lanjut biasanya dibuat antara atas atau Utara Mesopotamia dan dataran yang rendah atau Selatan Mesopotamia. Mesopotamia atas juga dikenal sebagai Jezirah, adalah daerah antara Efrat dan Tigris sampai ke Baghdad.
 Mesopotamia bawah terdiri dari selatan Irak, Kuwait, dan Iran bagian barat. Dalam penggunaan akademis modern, istilah Mesopotamia juga sering memiliki konotasi kronologis. Sering kali digunakan untuk merujuk daerah ini sampai dengan masa Penaklukan Muslim. Nama-nama seperti Suriah, Jezirah, dan Irak digunakan untuk menggambarkan wilayah tersebut setelah masa ini. Istilah ini telah diperdebatkan bahwa eufimisme ini merupakan istilah Eurosentris yang disematkan pada daerah ini pada masa-masa perambahan orang Barat abad ke-19.
Geografi Mesopotamia

Mesopotamia meliputi wilayah antara Sungai Efrat dan Tigris yang sama-sama bersumber dari dataran tinggi Armenia. Kedua sungai ini juga mendapatkan tambahan pasokan air dari banyak anak sungai, dan keseluruhan jaringan sungai ini mengaliri wilayah bergunung-gunung yang sangat luas. Jalur perjalanan darat di Mesopotamia lazimnya menyusuri Sungai Efrat karena tepian Sungai Tigris sebagian besar terjal dan sukar dilalui. Iklim wilayah ini semi-gersang dengan bentangan gurun yang luas di utara serta bentangan daerah berawa-rawa, berlaguna, berlumpur, dan bergelagah seluas 15.000 Km persegi (5.800 Mil persegi) di selatan. Jauh di ujung selatan, Efrat dan Tigris menyatu dan bermuara ke Teluk Persia.
Lingkungan gersang yang membentang dari kawasan-kawasan pertanian tadah hujan di daerah utara sampai ke daerah selatan di mana pertanian dengan irigasi menjadi sangat penting jika orang mengharapkan perolehan surplus energi yang dihasilkan atas energi yang diinvestasikan (Energy Returned On Energy Invested, EROEI). Irigasi ini dipermudah oleh tingginya permukaan air tanah serta lelehan salju dari puncak-puncak tinggi Pegunungan Zagros di wilayah utara dan dari dataran tinggi Armenia, sumber air Sungai Tigris dan Efrat yang menjadi asal-muasal nama negeri itu. Manfaat irigasi bergantung pada kemampuan mengerahkan tenaga kerja yang memadai untuk membuat dan memelihara saluran-saluran air, dan inilah faktor yang sejak permulaan zaman telah membantu pertumbuhan pemukiman-pemukiman perkotaan dan sistem kekuasaan politik yang terpusat.
Usaha pertanian di seluruh wilayah Mesopotamia disokong oleh usaha penggembalaan ternak secara berpindah-pindah. Kaum pengembara yang mendiami kemah-kemah menggembalakan biri-biri dan kambing (dan kemudian unta) dari padang-padang penggembalaan sepanjang sungai pada bulan-bulan musim panas yang kering, menuju padang-padang rumput musiman di sepanjang perbatasan dengan gurun pada musim dingin yang basah. Wilayah Mesopotamia umumnya tidak memiliki batu-batu untuk bahan bangunan, logam mulia, dan kayu, dan karena itulah sepanjang sejarahnya bergantung pada perniagaan jarak jauh atas hasil-hasil pertanian untuk mendapatkan barang-barang langka itu dari luar wilayah. Di daerah rawa-rawa di selatan, terdapat suatu budaya rumit penangkapan ikan dengan kapal-kapal pengangkut semenjak zaman prasejarah, yang menambah keberagaman budaya Mesopotamia.
Kegagalan-kegagalan berkala dalam sistem budaya ini diakibatkan oleh sejumlah faktor. Kebutuhan akan tenaga kerja dari waktu ke waktu telah mengakibatkan peningkatan populasi yang mendesak batas-batas daya tampung ekologi, dan begitu wilayah ini mengalami masa kekacauan iklim, keruntuhan pemerintah pusat dan penurunan populasi dapat terjadi. Di lain pihak, kerentanan militer terhadap serangan dari suku-suku pinggiran dari daerah perbukitan atau padang-padang penggembalaan telah mengakibatkan keruntuhan perniagaan dan penelantaran jaringan-jaringan irigasi selama beberapa waktu. Demikian pula, kecenderungan-kecenderungan memusat yang ada pada negara-negara kota hanya berarti pemerintahan terpusat atas seluruh wilayah Mesopotamia, bilamana dipaksakan, cenderung berumur pendek, dan semangat kedaerahan pun memecah-belah kekuasaan yang utuh menjadi satuan-satuan kesukuan atau kedaerahan yang lebih kecil. Kecenderungan-kecenderungan semacam ini masih terus berlanjut di Irak sampai sekarang.

Sejarah Mesopotamia

Sejarah Mesopotamia diawali dengan tumbuhnya sebuah peradaban, yang diyakini sebagai pusat peradaban tertua di dunia, oleh bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria membangun beberapa kota kuno yang terkenal, yaitu Ur, Ereck, Kish, dll. Kehadiran seorang tokoh imperialistik dari bangsa lain yang juga mendiami kawasan Mesopotamia, bangsa Akkadia, dipimpin Sargon Agung, ternyata melakukan sebuah penaklukan politis, tetapi bukan penaklukan kultural. Bahkan dalam berbagai hal budaya Sumer dan Akkad berakulturasi, sehingga era kepemimpinan ini sering disebut Jilid Sumer-Akkad. Campur tangan Sumer tidak dapat diremehkan begitu saja, pada saat Akkad terdesak oleh bangsa Gutti, bangsa Sumer-lah yg mendukung Akkad, sehingga mereka masih dapat berkuasa di "tanah antara dua sungai-sungai" itu.
Beberapa catatan lain bisa dikemukakan untuk menunjukkan hubungan antara Abraham dengan Mesopotamia. Dalam kitab Ulangan 26,3; Nabi Musa mengajak umat untuk berdoa kepada Tuhan saat mempersembahkan panen pertama dengan mengawalinya, Bapaku adalah seorang Aram, seorang pengembara. Di tempat lain dikatakan bahwa Ishak, anak Abraham, diperintah Abraham untuk mencari istri dari daerah Aram-Mesopotamia (aram-naharayim) (Kejadian 24,2.10). Demikian juga dengan Yakub, cucu Abraham, dia disuruh pergi ke Padan-Aram untuk mendapatkan istri di sana (Kejadian 28,2). Dalam terjemahan Yunani Septuaginta, kedua nama terakhir ini disebut Mesopotamia.
Selain petunjuk yang secara eksplisit ada dalam Alkitab, masih bisa ditemukan informasi lain yang menunjukkan pengaruh Mesopotamia yang cukup kuat. Kesejajaran antara kisah-kisah Enkidu/Shamhat dan Adam/Hawa telah lama diakui oleh para peneliti.[13] Kisah Taman Eden dan kisah Air Bah yang terkenal itu, yang dikisahkan pada bagian awal kitab Kejadian, sebenarnya kuat dipengaruhi sastra Mesopotamia. Biasanya ada tiga karya sastra Mesopotamia yang ditunjuk, yaitu Enuma Elis (dari abad 17 SM), Epos Gilgames (abad 20 SM), dan Athrahasis (abad 18-17 SM). Teks-teks itu cukup terkenal dan tersebar luas karena ditemukan dalam berbagai versi dan bahasa, seperti versi Akkadia, Sumeria, Hittit, dan Asyur. Kemiripan antara sastra Mesopotamia dengan teks-teks Alkitab begitu mencolok sehingga seringkali disimpulkan bahwa ada ketergantungan antara keduanya. Karena teks-teks Mesopotamia berasal dari periode yang jauh lebih tua dari teks-teks Alkitab, maka tidak mengherankan jika bisa disimpulkan, teks Alkitab bergantung pada sastra Mesopotamia itu. Para penulis Israel tampaknya mengambil dan memanfaatkan teks-teks Mesopotamia itu untuk mengungkap keyakinan mereka, sekaligus menyesuaikannya dengan keyakinan itu, terutama di bidang monoteisme.
Salah satu kemungkinan datangnya pengaruh Mesopotamia dalam kitab Kejadian adalah bahwa kisah-kisah Mesopotamia dibawa ke Palestina lalu menyebar-saat terjadi perpindahan penduduk besar-besaran dari Mesopotamia yang disebabkan situasi yang agak kacau sekitar abad 19 SM. Kiranya ini juga yang menjadi konteks berpindahnya keluarga Abraham dari Ur ke Haran, lalu ke Kanaan.
Berbagai kebiasaan dan peraturan yang tercermin dalam kitab Kejadian ternyata juga menemukan banyak kesamaan dengan kebiasaan dan peraturan yang hidup di daerah Mesopotamia. Sebagai contoh, kekhawatiran Abraham karena dia tidak mendapat keturunan, karena itu harus mewariskan segala miliknya kepada abdinya yang setia, Eliezer (Kejadian 15,1-4), ternyata sejajar dengan praktik yang dilakukan masyarakat Nuzi yang mendiami sebelah timur Sungai Tigris. Hal ini bisa diketahui melalui analisis teks-teks hukum yang berlaku di Nuzi, yang berasal dari abad 15 SM. Kisah tentang Abraham yang datang ke negeri asing lalu mengaku istrinya sebagai saudarinya (Kejadian 12,10-20) sering membingungkan orang. Tetapi, kini, dengan ditemukannya teks-teks yang berasal dari bangsa Hori di sebelah utara Mesopotamia, berdekatan dengan Haran, hal itu bisa dipahami dengan lebih baik.
Dalam masyarakat Hori, ikatan perkawinan yang paling kuat adalah jika seorang istri sekaligus mendapat status saudari secara hukum. Karena itu, sering terjadi, sesudah perkawinan diadakan upacara lain untuk mengadopsi sang istri menjadi saudari. Hal ini disahkan dengan dua dokumen. Pertama, dokumen tentang perkawinan. Kedua, berkait dengan pengangkatannya sebagai saudari.
Matthias Henze menunjukkan bahwa kegilaan Nebukadnezar dalam Kitab Daniel mengacu pada Epos Gilgames. Dia mengklaim bahwa penulis menggunakan unsur-unsur dari deskripsi Enkidu untuk melukis potret sarkastik dan mengejek raja Babel.
Salah satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan arkeolog Perancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash, dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan. Perbandingan dengan kumpulan hukum yang ada dalam kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya merupakan sesuatu yang amat masuk akal.


Codex Hammurabi, yang terdiri dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.

Budaya

Patung pria Sumeria dengan sikap tubuh seorang peserta upacara pemujaan, terbuat dari pualam dengan mata dari cangkang kerang, 2750-2600 SM


Hari raya

Bangsa Mesopotamia Kuno setiap bulan menyelenggarakan upacara-upacara. Tema upacara dan perayaan untuk tiap-tiap bulan ditentukan oleh sekurang-kurangnya enam faktor utama:
Pergantian penampakan bulan (paro-terang bermakna kelimpahan dan pertumbuhan, sedangkan paro-gelap dikait-kaitkan dengan penurunan, pelestarian, dan perayaan "Alam Bawah"")

Pergantian musim bercocok-tanam

Titik katulistiwa matahari dan titik balik matahari Mitos-mitos setempat beserta dewa-dewi yang terkait dengannya Keberhasilan dari raja yang berkuasa saat itu. Akitu, atau perayaan Tahun Baru (purnama pertama sesudah matahari melintasi katulistiwa di musim semi).
Peringatan peristiwa-peristiwa bersejarah (hari pendirian, kemenangan-kemenangan perang, hari-hari suci bagi kuil, dst.)

Olahraga

Perburuan populer di kalangan raja-raja Asyur. Tinju dan gulat kerap ditampilkan dalam seni rupa, dan beberapa bentuk permainan polo agaknya merupakan olahraga yang populer, dengan pemain yang duduk di atas pundak orang bukannya di atas punggung kuda.[17] Mereka juga memainkan majore, sebuah permainan yang mirip rugbi, tetapi dimainkan dengan sebuah bola yang terbuat dari kayu. Mereka juga memainkan sebuah permainan papan yang mirip dengan senet dan backgammon, dan yang kini dikenal sebagai "Permainan Kerajaan dari Ur."

Ekonomi dan pertanian

Area-area tambang di Asia BaratKuno. Warna kotak: cokelat untuk arsen, merah untuk tembaga, kelabu untuk timah, cokelat kemerah-merahan untuk besi, kuning untuk emas, putih untuk perak, hitam untuk timbal. Warna area: kuning untuk perunggu lakuran arsen , kelabu untuk perunggu lakuran timah.
Budi daya tanaman pangan yang dibantu irigasi menyebar dari pegunungan Zagros ke arah selatan bersama dengan peradaban Samara dan peradaban Hadji Muhammed sejak sekitar 5,000 SM.[18] Kuil-kuil Sumeria berfungsi sebagai bank dan mengembangkan sistem pinjaman dan kredit berskala besar yang pertama, tetapi bangsa Babilonia yang mengembangkan sistem perbankan dagang yang pertama. Perekonomian Mesopotamia dalam satu dan lain hal dapat dibandingkan dengan ilmu ekonomi pasca-Keynes, tetapi dengan suatu pendekatan yang cenderung "apa saja boleh".
Sejak permulaan sejarah Mesopotamia sampai dengan zaman Ur III, kuil-kuil menguasai sampai dengan sepertiga dari seluruh lahan yang ada, namun jumlah itu menurun dari waktu ke waktu seiring peningkatan kepemilikan tanah oleh pihak istana dan orang-orang pribadi. Ensi adalah kata yang digunakan sebagai sebutan bagi orang yang bertugas mengatur pekerjaan untuk segala macam usaha pertanian di lahan-lahan milik kuil. Rakyat jelata diketahui sebagai golongan yang paling sering bekerja di bidang pertanian sebagai petani-petani penggarap, khususnya di lahan-lahan milik kuil atau istana.
Kondisi geografi Mesopotamia selatan hanya memungkinkan penyelenggaraan pertanian jika dikelola dengan irigasi dan drainase yang baik. Kenyataan ini berdampak besar pada evolusi peradaban Mesopotamia awal. Kebutuhan akan irigasi mendorong bangsa Sumeria, dan selanjutnya bangsa Akkadia, untuk membangun kota-kota mereka di sepanjang tepian sungai Tigris dan Efrat serta cabang-cabangnya. Kota-kota besar seperti Ur dan Uruk, bertempat di sekitar anak-anak Sungai Efrat, sedangkan kota-kota lain, khususnya Lagash, didirikan dekat cabang-cabang Sungai Tigris.
Sungai-sungai juga memiliki manfaat lain sebagai sumber pasokan ikan (baik sebagai bahan pangan maupun sebagai pupuk), gelagah, dan lempung (untuk bahan bangunan). Berkat irigasi, pasokan pangan di Mesopotamia sebanding dengan pasokan pangan di padang-padang rumput Kanada. Lembah sungai Tigris dan lembah Sungai Efrat merupakan bagian timur laut dari bentangan Hilal Subur yang juga meliputi lembah Sungai Yordan dan lembah Sungai Nil. Jika semakin dekat dengan sungai membuat lahan menjadi subur dan baik untuk ditanami, maka sebaliknya jarak yang semakin jauh dari sungai membuat lahan menjadi kering dan sebagian besar tidak dapat dihuni. Itulah sebabnya perkembangan irigasi sangat penting artinya bagi para penduduk Mesopotamia.
Inovasi-inovasi bangsa Mesopotamia lainnya adalah pengendalian laju air dengan bendungan serta pemanfaatan saluran-saluran air. Orang-orang yang mula-mula menempati tanah yang subur di Mesopotamia mempergunakan luku kayu untuk menggemburkan tanah sebelum ditanami jelai, bawang, anggur, lobak, atau pun apel. Penduduk Mesopotamia terbilang di antara orang-orang pertama yang membuat bir dan tuak anggur. Dilibatkannya keterampilan dalam bertani di Mesopotamia membuat para petani tidak tidak bergantung pada budak belian untuk merampungkan pengerjaan lahan-lahan mereka, akan tetapi ada pula beberapa pengecualian.
Tingginya risiko mempekerjakan budak belian (budak belian melarikan diri atau memberontak) membuat banyak petani menghindarinya. Meskipun sungai-sungai menjadi penyokong hidup penduduk Mesopotamia, sungai-sungai jualah yang menghancurkannya dengan banjir yang kerap meluap dan meluluh-lantakkan seisi kota. Cuaca Mesopotamia yang sukar ditebak seringkali tidak berpihak pada para petani; tanaman-tanaman pangan sering dirusak cuaca sehingga orang perlu memelihara sumber-sumber pangan cadangan seperti lembu dan biri-biri. Seiring berlalunya waktu, daerah-daerah paling selatan di Mesopotamia menderita akibat meningkatnya kadar garam pada tanah, sehingga mengakibatkan kota-kota lambat-laun ditinggalkan orang dan terjadi pemusatan kekuasaan di Akkad yang letaknya jauh lebih ke utara.

Pemerintahan

Geografi Mesopotamia sangat berdampak pada perkembangan politik di wilayah itu. Di antara sungai dan kali, orang-orang Sumeria mendirikan kota-kota perdana berikut saluran-saluran irigasinya yang terpisahkan satu sama lain oleh bentangan gurun atau rawa yang luas dan terbuka, tempat berkeliaran suku-suku pengembara. Komunikasi antar kota-kota terisolasi itu sulit dan terkadang berbahaya jika dilakukan. Oleh karena itu, masing-masing kota Sumeria menjadi sebuah negara kota yang merdeka dan gigih mempertahankan kemerdekaannya. Kadang-kadang salah satu kota akan mencoba menaklukkan dan mempersatukan kota-kota yang sewilayah dengannya, tetapi upaya-upaya semacam itu mendapat perlawanan dan tertumbuk pada kegagalan selama berabad-abad. Akibatnya, sejarah politik Sumer penuh dengan peperangan yang berlangsung nyaris tanpa henti. Pada akhirnya Sumer pun dipersatukan oleh Eannatum, tetapi persatuan itu rapuh dan gagal bertahan, karena bangsa Akkadia berjaya menaklukkan Sumeria pada 2331 SM hanya satu generasi sesudahnya. Kekaisaran Akkadia adalah kekaisaran pertama yang mampu bertahan melampaui satu generasi dan menyelenggarakan alih kepemimpinan raja-raja secara damai. Umur kekaisaran ini relatif singkat, karena ditaklukkan bangsa Babilonia setelah bertahan selama beberapa generasi.
Raja-raja
Jabatan raja ini diyakini diberikan oleh para dewata dan dapat dialihkan dari satu kota ke kota yang lainnya melalui penaklukan militer. Daftar ini menyebutkan hanya satu perempuan penguasa: Kug-Baba, sang pemilik kedai minuman, satu-satunya orang yang mewakili dinasti ketiga Kish.
Daftar ini menggabungkan raja-raja mitologis dari masa sebelum air bah, dengan masa-masa pemerintahan yang luar biasa panjangnya, dengan dinasti-dinasti yang mungkin lebih historis. Tidak dapat disangkal bahwa kebanyakan dari nama-nama yang terdahulu dalam daftar ini merujuk kepada penguasa-penguasa historis yang belakangan menjadi tokoh-tokoh legendaris.
Nama pertama dalam daftar ini yang keberadaannya telah dipastikan melalui penemuan-penemuan arkeologis belakangan ini, adalah nama Enmebaragesi dari Kish, yang namanya juga disebutkan dalam Epos Gilgames. Hal ini menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa Gilgames sendiri adalah seorang raja historis dari Uruk, yang memerintah sekitar 2600 SM dalam Dinasti Pertama di Uruk. Selain itu, Dumuzi adalah salah satu ejaan dari nama dewa alam, Tammuz, yang biasanya dijuluki sebagai sang nelayan atau sang gembala.
Anehnya, dalam daftar ini tidak terdapat para penguasa yang juga imam dari Lagash, yang diketahui langsung dari prasasti-prasasti dari sekitar abad ke-25 SM. Penguasa awal lainnya di dalam daftar ini yang jelas historis adalah Lugal-Zage-Si dari Uruk dari abad ke-23 SM, yang menaklukkan Lagash, dan yang kemudian ditaklukkan oleh Sargon dari Akkad.
Daftar ini penting, karena tidak adanya sumber lain yang lebih akurat, bagi kronologi dari milennium ke-3 SM. Namun, keberadaan daftar dinasti yang kemungkinan memerintah pada waktu yang bersamaan, tetapi di kota-kota yang berbeda, membuat kita tidak mungkin mempercayai tambahan tokoh-tokoh lain untuk menghasilkan sebuah kronologi yang ketat. Dengan memperhitungkan hal ini, banyak masa pemerintahan yang telah direvisi pada tahun-tahun belakangan, dan pada umumnya kini ditempatkan pada masa yang jauh di kemudian hari daripada masa pemerintahan yang dicantumkan dalam penerbitan-penerbitan yang lebih tua, kadang-kadang sampai satu milennium. Sebagian malah telah mengusulkan pembacaan kembali satuan-satuan yang diberikan dalam angka-angka yang lebih realistis, seperti misalnya memperhitungkan tokoh-tokoh, yang diberikan dalam sar (satuan yang terdiri dari 3600) untuk masa sebelum air bah, dalam dasawarsa atau bahkan semata-mata tahun saja. Ketidakpastian, khususnya dengan masa periode Gutium, juga membuat pemastian tanggal-tanggal untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Dinasti Ketiga Ur (sekitar abad ke- SM) secara akurat praktis tidak mungkin (lihat pula Shulgi, Ur-Nammu).
Beberapa dari prasasti paling terdahulu yang diketahui memuat daftar yang berasal dari awal milennium ke-3 SM; misalnya, Prisma Weld-Blundell diperkirakan dari 2170 SM. Daftar raja-raja Bablonia dan Asyur yang belakangan yang didasarkan pada prisma ini masih menyimpan bagian-bagian yang paling awal dari daftar ini hingga abad ke-3 SM, ketika Berossus memopulerkan daftar ini di dunia Helenis. Karena menyangkut periode waktu yang sangat panjang, nama-namanya mau tak mau kemudian menjadi rusak, dan versi Yunani Berossus dari daftar ini, ironisnya salah satu dari yang paling tua yang dikenal oleh para akademikus modern, memperlihatkan transkripsi nama-nama yang sangat aneh.

Raja-raja

Dinasti I Awal

Raja-raja dari masa sebelum air bah, legendaris atau dari masa sebelum abad ke-25 SM. Pemerintahan mereka diusur dalam sar - yakni periode yang 3600 tahun lamanya - satuan berikutnya setelah 50 dalam penghitungan Sumeria (3600 = 60x60), dan dalam ner - satuan yang terdiri dari 600.

"Setelah kedudukan raja turun dari surga, kerajaan berada di Eridu(g). Di Eridu(g), Alulim menjadi raja; ia memerintah selama 28800 tahun."

Alulim dari Eridu(g): 8 sar (28800 tahun)
Alalgar dari Eridug: 10 sar (36000 tahun)
En-Men-Lu-Ana dari Bad-Tibira: 12 sar (43200 tahun)
En-Men-Ana 1, 2
En-Men-Gal-Ana dari Bad-Tibira: 8 sar (28800 tahun)
Dumuzi dari Bad-Tibira, sang gembala: 10 sar (36000 tahun)
En-Sipad-Zid-Ana dari Larag: 8 sar (28800 tahun)
En-Men-Dur-Ana dari Zimbir: 5 sar dan 5 ner (21000 tahun)
Ubara-Tutu dari Shuruppag: 5 sar dan 1 ner (18600 tahun)
Zin-Suddu 1
1. Kedua nama ini terdapat dalam setengah lebih sedikit dari versi-versi daftar raja Sumeria, tetapi tidak ada di dalam daftar lainnya.
2. Sebagai ganti En-Men-Ana di beberapa versi daftarnya ditemukan nama Kichu-Ana

Dinasti II Awal

Sekitar abad ke-26 SM. Banyak penguasa dari prasasti-prasasti sezaman tidak ditemukan dalam Daftar Raja-raja.

"Setelah air bah memusnahkan semuanya, dan jabatan raja turun dari langit, kerajaan berada di Kish."

Dinasti Pertama Kish

Jushur dari Kish: 1200 tahun
Kullassina-bel dari Kish: 960 tahun
Nangishlishma dari Kish: 670 tahun
En-Tarah-Ana dari Kish: 420 tahun
Babum dari Kish: 300 tahun
Puannum dari Kish: 840 tahun
Kalibum dari Kish: 960 tahun
Kalumum dari Kish: 840 tahun
Zuqaqip dari Kish: 900 tahun
Atab dari Kish: 600 tahun
Mashda dari Kish: 840 tahun
Arwium dari Kish: 720 tahun
Etana dari Kish, sang gembala, yang naik ke surga dan mengkonsolidasikan semua negara asing: 1500 tahun
Balih dari Kish: 400 tahun
En-Me-Nuna dari Kish: 660 tahun
Melem-Kish dari Kish: 900 tahun
Barsal-Nuna dari Kish: 1200 tahun
Zamug dari Kish: 140 tahun
Tizqar dari Kish: 305 tahun
Ilku dari Kish: 900 tahun
Iltasadum dari Kish: 1200 tahun
En-Men-Barage-Si dari Kish, yang menaklukkan Elam: 900 tahun (ini adalah penguasa paling awal dalam daftar ini yang dikonfirmasikan secara terpisah dari bukti-bukti epigraf )
Aga dari Kish: 625 tahun
Kemudian Kish ditaklukkan dan kerajaan diambil ke E-ana.

Dinasti Pertama Uruk
Mesh-ki-ang-gasher dari E-ana, putera Utu: 324 tahun.
Mesh-ki-ang-gasher pergi ke Laut lalu menghilang.dia juga telah bekuasa dalam perang utu

Enmerkar, yang membangun Unug: 420 tahun
Lugalbanda dari Unug, sang gembala: 1200 tahun
Dumuzid dari Unug, sang nelayan: 100 tahun. Merebut En-Men-Barage-Si dari Kish.
Gilgamesh, yang ayahnya adalah "hantu", penguasa Kulaba: 126 tahun.
Ur-Nungal dari Unug: 30 tahun
Udul-Kalama dari Unug: 15 tahun
La-Ba'shum dari Unug: 9 tahun
En-Nun-Tarah-Ana dari Unug: 8 tahun
Mesh-He dari Unug: 36 tahun
Melem-Ana dari Unug: 6 tahun
Lugal-Kitun dari Unug: 36 tahun
Kemudian Uruk dikalahkan dan kerajaan dibawa ke Urim.

Dinasti Pertama Ur
sekitar abad ke-25 SM

Mesh-Ane-Pada dari Urim: 80 tahun
Mesh-Ki-Ang-Nanna dari Urim: 36 tahun
Elulu dari Urim: 25 tahun
Balulu dari Urim: 36 tahun
Kemudian Urim dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Awan.

Dinasti III Awal
                Dinasti awal Lagash tidak disebutkan dalam Daftar Raja-raja, meskipun dari prasasti-prasasti dinasti ini diketahui memang ada.
Awan

Tiga raja dari Awan, yang keseluruhannya memerintah selama 356 tahun. Lalu Awan dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Kish.

Dinasti Kedua Kish

Susuda dari Kish: 201 tahun
Dadasig dari Kish: 81 tahun
Mamagal dari Kish, the boatman: 360 tahun
Kalbum dari Kish: 195 tahun
Tuge dari Kish: 360 tahun
Men-Nuna dari Kish: 180 tahun
 ? dari Kish: 290 tahun
Lugalngu dari Kish: 360 tahun
Kemudian Kish dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Hamazi.

Hamazi

Hadanish dari Hamazi: 360 tahun
Kemudian Hamazi dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Unug.

Dinasti Kedua Uruk

En-Shakansha-Ana dari Unug: 60 tahun
Lugal-Ure (atau Lugal-Kinishe-Dudu) dari Unug: 120 tahun
Argandea dari Unug: 7 tahun
Kemudian Unug dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Urim.

Dinasti Kedua Ur

Nani dari Urim: 120 tahun
Mesh-Ki-Ang-Nanna dari Urim: 48 tahun
 ? dari Urim: 2 tahun
Kemudian Urim dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Adab.

Adab
Lugal-Anne-Mundu dari Adab: 90 tahun
Kemudian Adab dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Mari.

Mari

Anbu dari Mari: 30 tahun
Anba dari Mari: 17 tahun
Bazi dari Mari: 30 tahun
Zizi dari Mari: 20 tahun
Limer dari Mari, imam gudu: 30 tahun
Sharrum-Iter dari Mari: 9 tahun
Kemudian Mari dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Kish.

Dinasti Ketiga Kish

Kug-Baba dari Kish, perempuan pemilik kedai minuman, yang membangun dasar yang kukuh di Kish: 100 tahun (perempuan satu-satunya dalam Daftar Raja-raja)
Kemudian Kish dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Akshak.

Akshak
Unzi dari Akshak: 30 tahun
Undalulu dari Akshak: 6 tahun
Urur dari Akshak: 6 tahun
Puzur-Nirah dari Akshak: 20 tahun
Ishu-Il dari Akshak: 24 tahun
Shu-Sin dari Akshak: 7 tahun
Kemudian Akshak dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Kish.

Dinasti Keempat Kish
Puzur-Sin dari Kish: 25 tahun
Ur-Zababa dari Kish: 400 (6?) tahun
Zimudar dari Kish: 30 tahun
Ussi-Watar dari Kish: 7 tahun
Eshtar-Muti dari Kish: 11 tahun
Ishme-Shamash dari Kish: 11 tahun
Shu-Ilishu dari Kish: 15 tahun
Nanniya dari Kish, sang pembuat permata: 7 tahun.
Kemudian Kish dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Unug.

Dinasti Ketiga Uruk
Lugal-Zage-Si dari Unug: 25 tahun
(2259 SM–2235 SM kronologi singkat) mengalahkan Lagash.
Akkadia[sunting | sunting sumber]
Sargon, yang ayahnya adalah seorang tukang kebun, juru minuman Ur-Zababa, raja (kaisar pertama) Agade, yang membangun Agade: 40 tahun
(l.k. 2235 SM kronologi singkat)
Rimush, putra Sargon yang lebih muda: 9 tahun
Man-Ishtishu, putra Sargon yang lebih tua : 15 tahun
Naram-Sin, putra Man-Ishtishu: 56 tahun
Shar-Kali-Sharri, putra Naram-Sin: 25 tahun
Kemudian siapakah yang menjadi raja? Siapakah rajanya?

Irgigi, Imi, Nanum, Ilulu: empat dari mereka hanya berkuasa selama 3 tahun
Dudu: 21 tahun
Shu-Durul, putra Dudu: 15 tahun
Kemudian Agade dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Unug.

Dinasti Keempat Uruk
(Kemungkinan para penguasa Mesopotamia hilir yang sezaman dengan dinasti Akkadia)

Ur-Ningin dari Unug: 7 tahun
Ur-Gigir dari Unug: 6 tahun
Kuda dari Unug: 6 tahun
Puzur-Ili dari Unug: 5 tahun
Ur-Utu (atau Lugal-Melem) dari Unug: 25 tahun
Unug dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke tentara Gutium.

Periode Gutium
Di kalangan tentara Gutium, mula-mula tidak ada raja yang terkenal; mereka menjadi raja atas diri sendiri dan memerintah selama 3 tahun

Inkishush dari Gutium: 6 tahun
Zarlagab dari Gutium: 6 tahun
Shulme (atau Yarlagash) dari Gutium: 6 tahun
Silulumesh (atau Silulu) dari Gutium: 6 tahun
Inimabakesh (atau Duga) dari Gutium: 5 tahun
Igeshaush (atau Ilu-An) dari Gutium: 6 tahun
Yarlagab dari Gutium: 3 tahun
Ibate dari Gutium: 3 tahun
Yarla dari Gutium: 3 tahun
Kurum dari Gutium: 1 year
Apil-Kin dari Gutium: 3 tahun
La-Erabum dari Gutium: 2 tahun
Irarum dari Gutium: 2 tahun
Ibranum dari Gutium: 1 year
Hablum dari Gutium: 2 tahun
Puzur-Sin dari Gutium: 7 tahun
Yarlaganda dari Gutium: 7 tahun
 ? dari Gutium: 7 tahun
Tiriga dari Gutium: 40 hari
Uruk[sunting | sunting sumber]
Utu-hegal dari Unug: catatan masa pemerintahannya berbeda-beda (427 tahun / 26 tahun / 7 tahun)
mengusir orang-orang Gutium
Dinasti Ketiga Ur[sunting | sunting sumber]
"Renaisans Sumeria "

Ur-Nammu dari Urim: 18 tahun
ruled ca. 2065 SM–2047 SM kronologi singkat.
Shulgi: 46 tahun
ruled ca. 2047 SM–1999 SM kronologi singkat.
Amar-Sina dari Urim: 9 tahun
Shu-Sin dari Urim: 9 tahun
Ibbi-Sin dari Urim: 24 tahun
Kemudian Urim dikalahkan. Fondasi Sumeria dicabik-cabik (?) Kerajaan dipindahkan ke Isin.

Dinasti Isin
Negara-negara Amori yang independen di Mesopotamia hilir. Dinastinya berakhir pada sekitar 1730 SM kronologi singkat.

Ishbi-Erra dari Isin: 33 tahun
Shu-ilishu dari Isin: 20 tahun
Iddin-Dagan dari Isin: 20 tahun
Ishme-Dagan dari Isin: 20 tahun
Lipit-Eshtar dari Isin 11 tahun
Ur-Ninurta dari Isin (putra Ishkur, kiranya ia memperoleh kelimpahan, pemerintahan yang baik, dan kehidupan yang manis selama bertahun-tahun): 28 tahun
Bur-Sin dari Isin: 5 tahun
Lipit-Enlil dari Isin: 5 tahun
Erra-Imitti dari Isin: 8 tahun
Enlil-Bani dari Isin: 24 tahun (untuk merayakan Tahun Baru tukang kebun raja diangkat sebagai 'raja sehari' kemudian dikorbankan, raja meninggal pada perayaan. Enlil-Bani tetap pada takhtanya.)
Zambiya dari Isin: 3 tahun
Iter-Pisha dari Isin: 4 tahun
Ur-Dul-Kuga dari Isin: 4 tahun
Suen-magir dari Isin: 11 tahun
Damiq-ilicu dari Isin: 23 tahun
Ada 11 kota, kota-kota di mana kekuasaan kerajaan dijalankan. Seluruhnya ada 134 orang raja, yang bersama-sama memerintah selama 28876 + X tahun.

Bangsa Mesopotamia percaya bahwa raja-raja dan ratu-ratu mereka adalah keturunan dari warga Kota Dewa-Dewa, akan tetapi tidak seperti bangsa Mesir Kuno, mereka tidak pernah meyakini bahwa raja-raja mereka adalah dewa-dewa sejati.[22] Sebagian besar raja-raja menggelari dirinya “raja semesta alam” atau “raja agung”. Gelar lainnya yang lazim dipakai adalah “gembala”, karena raja-raja harus memperhatikan peri kehidupan rakyatnya.

Kekuasaan

Ketika tumbuh menjadi sebuah kekaisaran, wilayah kekuasaan Asyur dibagi-bagi menjadi daerah-daerah yang disebut provinsi. Tiap-tiap provinsi dinamakan menurut nama kota utamanya, seperti Niniwe, Samaria, Damsyik, dan Arpad. Semua provinsi dikepalai gubernurnya masing-masing yang bertugas memastikan setiap orang membayar pajaknya. Para gubernur juga wajib menghimpun pasukan untuk maju berperang dan menyalurkan tenaga kerja bilamana ada pembangunan kuil. Seorang gubernur juga bertanggung jawab atas penerapan hukum di provinsi yang dipimpinnya. Cara ini memudahkan pengendalian sebuah kekaisaran besar. Walaupun sebelumnya cuma sebuah negara kecil di Sumeria, Babel tumbuh pesat selama masa pemerintahan Hammurabi. Ia dikenal sebagai “pencipta aturan hukum”, dan segera saja Babel menjadi salah satu kota utama di Mesopotamia. Kelak Babel disebut Babilonia, yang berarti "gapura dewa-dewa." Kota ini juga menjadi salah satu pusat pembelajaran terbesar dalam sejarah.

Peperangan

Sekeping pecahan dari Prasasti Burung Nazar yang memperlihatkan pasukan perang yang sedang berbaris, zaman dinasti awal III, 2600–2350 SM.
Dengan berakhirnya zaman kekuasaan Uruk, tumbuh kota-kota bertembok dan banyak desa terpencil dari zaman Ubaid ditinggalkan yang menyiratkan adanya peningkatan kekerasan yang dilakukan secara berkelompok. Seorang raja awal Lugalbanda diduga telah membangun tembok putih mengitari kota itu. Begitu negara-negara kota mulai tumbuh, lingkup jangkauan pengaruh mereka pun saling tumpang-tindih sehingga menimbulkan perdebatan di antara negara-negara kota lainnya, khususnya menyangkut tanah dan terusan-terusan. Perdebatan-perdebatan ini dicatat pada loh-loh lempung beberapa ratus tahun sebelum pecah perang-perang besar—catatan pertama mengenai peperangan ditulis sekitar 3200 SM namun belum menjadi suatu kelaziman sampai kira-kira 2500 SM. Seorang raja Dinasti Awal II (Ensi) Uruk di Sumer, Gilgamesh (2600 SM), disanjung karena keberhasilannya dalam bertempur melawan Humbaba, penjaga Pegunungan Aras, dan kelak dalam banyak sajak dan kidung ia dipuja-puji pula sebagai makhluk dua pertiga dewa dan hanya sepertiga manusia. Tugu Prasasti Burung Nazar yang berasal dari akhir zaman Dinasti Awal III (2600–2350 SM), yang dibuat untuk memperingati kemenangan Eannatum dari Lagash atas kota tetangga saingannya Umma, adalah monumen tertua di dunia yang dibuat sebagai pernyataan pujian atas sebuah tindakan pembantaian.[23] Mulai dari saat itu sampai seterusnya, peperangan dijadikan bagian dari sistem politik Mesopotamia. Sesekali sebuah kota yang netral dapat bertindak selaku penengah bagi dua kota yang saling berseteru. Keadaan ini mendorong terbentuknya persatuan-persatuan antar-kota yang kelak berkembang menjadi negara-negara kedaerahan.[22] Tatkala kekaisaran-kekaisaran terwujud, mereka pun maju berperang tetapi lebih sering melawan negara-negara asing. Raja Sargon misalnya, menaklukkan seluruh kota di Sumer, beberapa kota di Mari, dan kemudian maju berperang melawan Suriah utara. Banyak dinding istana Asiria dan Babilonia dihiasi dengan gambar-gambar mengenai pertempuran-pertempuran yang berhasil dimenangkan dan seteru yang lari kocar-kacir atau bersembunyi dibalik rumpun-rumpun gelagah.

Hukum

Negara-negara kota Mesopotamia menyusun naskah hukum mereka dengan bersumber pada keputusan-keputusan peradilan dan undang-undang raja-raja. Naskah hukum Urukagina dan Lipit Isytar telah ditemukan. Naskah hukum paling terkenal berasal dari Hammurabi, yang termasyhur setelah kematiannya berkat perangkat aturan hukum yang disusunnya, yakni Naskah Hukum Hammurabi (disusun ca. 1780 SM), yang merupakan salah satu perangkat hukum tertua yang pernah ditemukan dan salah satu contoh dokumen sejenis yang berasal dari Mesopotamia Kuno. Hammurabi menetapkan 200 lebih aturan hukum bagi Mesopotamia. Kajian atas aturan-aturan ini menunjukkan makin lemahnya hak-hak perempuan, dan makin kejamnya perlakuan terhadap budak belian[24]

Seni rupa

Seni rupa Mesopotamia menyaingi Seni rupa Mesir Kuno baik dari segi kemegahan, kecanggihan, maupun tingkat kerumitannya di kawasan barat Eurasia sejak milenium ke-4 SM sampai wilayah itu ditaklukkan Kekaisaran Akhemeniyah Persia pada abad ke-6 SM. Peninggalan seni rupa Mesopotamia sebagian besar berupa berbagai jenis patung batu dan tanah liat yang sangat tahan lama sifatnya; hanya sedikit peninggalan berupa lukisan yang mampu menyintasi zaman, namun peninggalan-peninggalan itu menyiratkan bahwa lukisan-lukisan Mesopotamia umumnya berupa pembubuhan warna pada pola-pola hiasan geometris dan tumbuh-tumbuhan, meskipun sebagian besar patung-patung juga diwarnai.
Pada zaman melek-aksara perdana, tatkala Mesopotamia berada di bawah kekuasaan Uruk, dihasilkan karya-karya yang canggih seperti Bejana Warka dan stempel-stempel silinder. Singa Betina Guennol adalah sebuah patung batugamping kecil yang menarik dari Elam sekitar 3000–2800 SM, berwujud separuh manusia dan separuh singa.[25] Tak lama sesudah zaman itu muncul sejumlah patung berwujud imam-imam dan pemuja-pemuja bermata besar, sebagian besar terbuat dari pualam dengan tinggi mencapai satu kaki, yang tampak tengah menghadiri upacara penyembahan berhala di kuil, namun hanya sejumlah kecil patung-patung ini yang menyintas.[26]Patung-patung dari zaman Sumeria dan Akkadia umumnya bermata besar membelalak dan berjanggut panjang pada sosok pria. Banyak pula mahakarya yang telah ditemukan di makam kerajaan di Ur (ca. 2650 SM), termasuk dua patung domba dalam belukar, lembu tembaga, dan sebuah kepala lembu pada salah satu di antara lira-lira dari Ur.
Dari zaman-zaman berikutnya sebelum bangkitnya Kekaisaran Asiria Baru, seni rupa Mesopotamia menyintas dalam beberapa wujud: stempel-stempel silinder, patung-patung utuh yang relatif kecil, dan relief-relief dalam berbagai ukuran, termasuk plakat-plakat murah dari gerabah cetakan untuk rumah tinggal, sebagian berkaitan dengan keagamaan dan sebagian lagi tampaknya tidak.
Relief Burney adalah sebuah plakat terakota dengan tingkat kerumitan yang tidak seperti biasanya dan relatif besar ukurannya (20 x 15 inci) memperlihatkan sesosok dewi bersayap dan berkaki burung pemangsa, dikawal burung-burung hantu dan singa-singa. Relief ini berasal dari abad ke-18 atau ke-19 SM, dan mungkin pula merupakan hasil cetakan.[29] Tugu-tugu batu prasasti, persembahan-persembahan nazar, atau plakat-plakat peringatan kemenangan-kemenangan perang dan pesta-pesta perayaan, ditemukan pula di kuil-kuil, yang tidak seperti barang-barang sejenis keluaran pemerintah yang lebih resmi sifatnya, tidak memuat cukup banyak tulisan untuk menjelaskan barang-barang itu;
Kepingan tugu Prasasti Burung Nazar adalah sebuah contoh awal peninggalan barang-barang bertulisan, dan Obelisk Hitam Salmaneser III dari Asyur adalah peninggalan bertulisan yang besar dan kokoh dari zaman kemudian.
Ditaklukkannya seluruh Mesopotamia dan wilayah-wilayah di sekitarnya oleh bangsa Asyur menjadikan negeri itu lebih besar dan lebih makmur dari pada sebelumnya, dan dipajangnya karya seni yang sangat memukau di istana-istana dan tempat-tempat umum pastilah dimaksudkan pula untuk menyaingi semarak seni rupa negeri tetangga mereka, Kekaisaran Mesir. Bangsa Asyur mengembangkan sebuah gaya seni berupa latar-latar yang sangat luas diisi relief-relief pipih naratif yang ditatah dengan sangat rinci pada batu untuk istana-istana, menampilkan adegan-adegan peperangan atau perburuan; British Museum memiliki sekumpulan relief semacam itu. Bangsa Asyur menghasilkan sangat sedikit patung yang dipahat utuh, kecuali untuk sosok-sosok raksasa penjaga, kerapkali berwujud lamassuberkepala manusia, yang dipahat menjadi relief timbul pada dua sisi balok persegi, dengan bagian kepala berupa pahatan utuh (dan juga kelima tungkainya, sehingga tampak terpahat utuh dari masing-masing sisi balok). Bahkan sebelum menguasai Mesopotamia mereka telah meneruskan tradisi pembuatan stempel silinder dengan rancangan-rancangan yang seringkali tampak hidup dan penuh cita rasa seni.

Arsitektur

Kajian mengenai seni bina Mesopotamia Kuno didasarkan pada bukti-bukti arkeologi yang tersedia, gambar-gambar berwujud bangunan, dan naskah-naskah tentang pelaksanaan pembangunan. Karya-karya ilmiah biasanya berkonsentrasi pada kuil-kuil, istana-istana, tembok-tembok dan gerbang-gerbang kota, serta bangunan-bangunan monumental lainnya, namun sesekali dihasilkan pula karya ilmiah terkait seni bina rumah tinggal. Survei permukaan dalam lingkup arkeologi juga telah memungkinkan pembuatan kajian mengenai tata ruang perkotaan di kota-kota Mesopotamia awal.
Batu-bata merupakan bahan bangunan yang paling banyak digunakan karena tersedia dekat dan cuma-cuma, sementara batu bangunan harus didatangkan dari tempat-tempat yang cukup jauh dari sebagian besar kota-kota itu. Ziggurat adalah bentuk bangunan yang paling menonjol, dan kota-kota seringkali memiliki gerbang-gerbang besar. Yang paling masyhur dari gerbang-gerbang itu adalah Gerbang Isytar dari kota Babel yang dibangun pada era Babilonia Baru, dihiasi hewan-hewan yang dibentuk pada batu-bata beraneka warna, dan yang sebagian besar kini menjadi koleksi Pergamon Museum di Berlin.
Sisa-sisa bangunan yang paling menonjol dari zaman awal Mesopotamia adalah gugus-gugus bangunan kuil di Uruk dari milenium ke-4 SM, kuil-kuil dan istana-istana di situs-situs periode Dinasti Awal di lembah Sungai Diyalaseperti Khafajah dan Tell Asmar, sisa-sisa peninggalan Dinasti ketiga Ur di Nippur (Tempat suci Enlil) dan Ur (Tempat suci Nanna), sisa-sisa peninggalan dari pertengahan Zaman Perunggu di situs-situs Suriah-Turki seperti Ebla, Mari, Alalakh, Aleppo dan Kultepe, istana-istana dari akhir Zaman Perunggu di Bogazkoy (Hattusha), Ugarit, Asyur dan Nuzi, istana-istana dan kuil-kuil Zaman Besi di situs-situs Assiria (Kalhu/Nimrud, Khorsabad, Nineveh), Babilonia (Babel), Urartu (Tushpa/Van, Kalesi, Cavustepe, Ayanis, Armavir, Erebuni, Bastam) dan Het Baru (Karkamis, Tell Halaf, Karatepe).
Rumah-rumah sebagian besar diketahui dari sisa-sisa peninggalan era Babilonia Baru di Nippur dan Ur. Yang paling menonjol dari antara sumber-sumber tertulis mengenai pendirian bangunan dan ritual-ritual yang terkait dengannya adalah silinder-silinder Gudea dari milenium ke-3 SM, demikian pula prasasti-prasasti kerajaan Assiria dan Babilonia dari Zaman Besi.