Mesopotamia
Peta yang menunjukkan wilayah Mesopotamia
Mesopotamia (dari bahasa Yunani
Kuno: Μεσοποταμία: tanah di antara sungai-sungai; Arab: بلاد الرافدين (bilād
al-rāfidayn); bahasa Suryani: ܒܝܬ
ܢܗܪܝܢ (Beth
Nahrain): "tanah dari sungai-sungai" terletak di antara dua sungai
besar, Efrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu pada zaman
dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di
antara sungai-sungai". Dengan bidang tanah yang panjang dan sempit
berbentuk seperti bulan sabit dan tanahnya yang subur, daerah ini juga disebut
"Bulan Sabit Subur". Nama Mesopotamia sudah digunakan oleh para
penulis Yunani dan Latin kuno, seperti apa Polybius (abad 2 SM) dan Strabo (60
SM-20 M). Tanah subur ini telah menumbuhkan banyak peradaban kuno yangg megah
yang secara kolektif dikenal sebagai sebagai peradaban Mesopotamia. Inilah
peradaban paling awal di Asia Barat dan salah satu yang tertua di dunia.
Menurut keyakinan Kristen dan
Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham
(yang lalu disebut "Bapa Orang Beriman" dan diakui oleh tiga agama
monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi ) dengan Mesopotamia. Dalam kitab
Kejadian 11:31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur
Kaśdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Daerah Israeldan
Palestina sekarang). Lokasi Ur Kaśdim biasanya dirujuk pada Tell el-Muqayyar,
situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Sedangkan Haran
terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Efrat.
Peta yang menunjukkan sistem
sungai Tigris-Efrat, yang mendefinisikan Mesopotamia
Toponimi daerah Mesopotamia berasal dari akar kata Yunani
Kuno μέσος (mesos) "tengah" dan ποταμός (potamos) "sungai"
dan secara harfiah berarti "(negeri) di antara sungai-sungai".
Toponimi ini digunakan dalam Septuagintayang berbahasa Yunani itu (ca. 250 SM)
sebagai terjemahan dari padanannya dalam bahasa Ibrani Naharaim. Toponimi ini
bahkan sudah lebih awal lagi digunakan oleh bangsa Yunani sebagaimana yang
dibuktikan dengan Anabasis Alexandri, yang ditulis pada akhir abad ke-2 Masehi,
namun secara khusus mengacu pada sumber-sumber dari zaman Alexander Agung.
Dalam Anabasis, Mesopotamia digunakan untuk menyebut wilayah yang membentang di
timur Sungai Efrat di utara Suriah. Istilah Aram biritum / birit Narim
berhubungan dengan konsep geografis serupa. Kemudian,
istilah Mesopotamia itu lebih umum diterapkan untuk semua tanah antara sungai
Efrat dan Tigris, sehingga menggabungkan tidak hanya bagian dari Suriah tetapi
juga hampir semua Irak dan Turki tenggara. Dataran stepa di sebelah barat
sungai Efrat dan bagian barat Pegunungan Zagros juga sering termasuk dalam
istilah yang lebih luas Mesopotamia. Perbedaan lebih lanjut biasanya dibuat
antara atas atau Utara Mesopotamia dan dataran yang rendah atau Selatan
Mesopotamia. Mesopotamia atas juga dikenal sebagai Jezirah, adalah daerah
antara Efrat dan Tigris sampai ke Baghdad.
Mesopotamia bawah terdiri dari selatan Irak,
Kuwait, dan Iran bagian barat. Dalam penggunaan akademis modern, istilah
Mesopotamia juga sering memiliki konotasi kronologis. Sering kali digunakan
untuk merujuk daerah ini sampai dengan masa Penaklukan Muslim. Nama-nama
seperti Suriah, Jezirah, dan Irak digunakan untuk menggambarkan wilayah
tersebut setelah masa ini. Istilah ini telah diperdebatkan bahwa eufimisme ini
merupakan istilah Eurosentris yang disematkan pada daerah ini pada masa-masa
perambahan orang Barat abad ke-19.
Geografi Mesopotamia
Mesopotamia meliputi wilayah
antara Sungai Efrat dan Tigris yang sama-sama bersumber dari dataran tinggi
Armenia. Kedua sungai ini juga mendapatkan tambahan pasokan air dari banyak
anak sungai, dan keseluruhan jaringan sungai ini mengaliri wilayah
bergunung-gunung yang sangat luas. Jalur perjalanan darat di Mesopotamia lazimnya
menyusuri Sungai Efrat karena tepian Sungai Tigris sebagian besar terjal dan
sukar dilalui. Iklim wilayah ini semi-gersang dengan bentangan gurun yang luas
di utara serta bentangan daerah berawa-rawa, berlaguna, berlumpur, dan
bergelagah seluas 15.000 Km persegi (5.800 Mil persegi) di selatan. Jauh di
ujung selatan, Efrat dan Tigris menyatu dan bermuara ke Teluk Persia.
Lingkungan gersang yang
membentang dari kawasan-kawasan pertanian tadah hujan di daerah utara sampai ke
daerah selatan di mana pertanian dengan irigasi menjadi sangat penting jika
orang mengharapkan perolehan surplus energi yang dihasilkan atas energi yang
diinvestasikan (Energy Returned On Energy Invested, EROEI). Irigasi ini
dipermudah oleh tingginya permukaan air tanah serta lelehan salju dari
puncak-puncak tinggi Pegunungan Zagros di wilayah utara dan dari dataran tinggi
Armenia, sumber air Sungai Tigris dan Efrat yang menjadi asal-muasal nama
negeri itu. Manfaat irigasi bergantung pada kemampuan mengerahkan tenaga kerja
yang memadai untuk membuat dan memelihara saluran-saluran air, dan inilah
faktor yang sejak permulaan zaman telah membantu pertumbuhan
pemukiman-pemukiman perkotaan dan sistem kekuasaan politik yang terpusat.
Usaha pertanian di seluruh
wilayah Mesopotamia disokong oleh usaha penggembalaan ternak secara
berpindah-pindah. Kaum pengembara yang mendiami kemah-kemah menggembalakan
biri-biri dan kambing (dan kemudian unta) dari padang-padang penggembalaan
sepanjang sungai pada bulan-bulan musim panas yang kering, menuju padang-padang
rumput musiman di sepanjang perbatasan dengan gurun pada musim dingin yang
basah. Wilayah Mesopotamia umumnya tidak memiliki batu-batu untuk bahan
bangunan, logam mulia, dan kayu, dan karena itulah sepanjang sejarahnya
bergantung pada perniagaan jarak jauh atas hasil-hasil pertanian untuk
mendapatkan barang-barang langka itu dari luar wilayah. Di daerah rawa-rawa di
selatan, terdapat suatu budaya rumit penangkapan ikan dengan kapal-kapal
pengangkut semenjak zaman prasejarah, yang menambah keberagaman budaya
Mesopotamia.
Kegagalan-kegagalan berkala dalam
sistem budaya ini diakibatkan oleh sejumlah faktor. Kebutuhan akan tenaga kerja
dari waktu ke waktu telah mengakibatkan peningkatan populasi yang mendesak
batas-batas daya tampung ekologi, dan begitu wilayah ini mengalami masa
kekacauan iklim, keruntuhan pemerintah pusat dan penurunan populasi dapat
terjadi. Di lain pihak, kerentanan militer terhadap serangan dari suku-suku
pinggiran dari daerah perbukitan atau padang-padang penggembalaan telah mengakibatkan
keruntuhan perniagaan dan penelantaran jaringan-jaringan irigasi selama
beberapa waktu. Demikian pula, kecenderungan-kecenderungan memusat yang ada
pada negara-negara kota hanya berarti pemerintahan terpusat atas seluruh
wilayah Mesopotamia, bilamana dipaksakan, cenderung berumur pendek, dan
semangat kedaerahan pun memecah-belah kekuasaan yang utuh menjadi satuan-satuan
kesukuan atau kedaerahan yang lebih kecil. Kecenderungan-kecenderungan semacam
ini masih terus berlanjut di Irak sampai sekarang.
Sejarah Mesopotamia
Sejarah Mesopotamia diawali
dengan tumbuhnya sebuah peradaban, yang diyakini sebagai pusat peradaban tertua
di dunia, oleh bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria membangun beberapa kota kuno yang
terkenal, yaitu Ur, Ereck, Kish, dll. Kehadiran seorang tokoh imperialistik
dari bangsa lain yang juga mendiami kawasan Mesopotamia, bangsa Akkadia,
dipimpin Sargon Agung, ternyata melakukan sebuah penaklukan politis, tetapi
bukan penaklukan kultural. Bahkan dalam berbagai hal budaya Sumer dan Akkad
berakulturasi, sehingga era kepemimpinan ini sering disebut Jilid Sumer-Akkad.
Campur tangan Sumer tidak dapat diremehkan begitu saja, pada saat Akkad
terdesak oleh bangsa Gutti, bangsa Sumer-lah yg mendukung Akkad, sehingga mereka
masih dapat berkuasa di "tanah antara dua sungai-sungai" itu.
Beberapa catatan lain bisa
dikemukakan untuk menunjukkan hubungan antara Abraham dengan Mesopotamia. Dalam
kitab Ulangan 26,3; Nabi Musa mengajak umat untuk berdoa kepada Tuhan saat
mempersembahkan panen pertama dengan mengawalinya, Bapaku adalah seorang Aram,
seorang pengembara. Di tempat lain dikatakan bahwa Ishak, anak Abraham,
diperintah Abraham untuk mencari istri dari daerah Aram-Mesopotamia
(aram-naharayim) (Kejadian 24,2.10). Demikian juga dengan Yakub, cucu Abraham,
dia disuruh pergi ke Padan-Aram untuk mendapatkan istri di sana (Kejadian
28,2). Dalam terjemahan Yunani Septuaginta, kedua nama terakhir ini disebut
Mesopotamia.
Selain petunjuk yang secara
eksplisit ada dalam Alkitab, masih bisa ditemukan informasi lain yang
menunjukkan pengaruh Mesopotamia yang cukup kuat. Kesejajaran antara
kisah-kisah Enkidu/Shamhat dan Adam/Hawa telah lama diakui oleh para
peneliti.[13] Kisah Taman Eden dan kisah Air Bah yang terkenal itu, yang
dikisahkan pada bagian awal kitab Kejadian, sebenarnya kuat dipengaruhi sastra
Mesopotamia. Biasanya ada tiga karya sastra Mesopotamia yang ditunjuk, yaitu
Enuma Elis (dari abad 17 SM), Epos Gilgames (abad 20 SM), dan Athrahasis (abad
18-17 SM). Teks-teks itu cukup terkenal dan tersebar luas karena ditemukan
dalam berbagai versi dan bahasa, seperti versi Akkadia, Sumeria, Hittit, dan
Asyur. Kemiripan antara sastra Mesopotamia dengan teks-teks Alkitab begitu
mencolok sehingga seringkali disimpulkan bahwa ada ketergantungan antara
keduanya. Karena teks-teks Mesopotamia berasal dari periode yang jauh lebih tua
dari teks-teks Alkitab, maka tidak mengherankan jika bisa disimpulkan, teks
Alkitab bergantung pada sastra Mesopotamia itu. Para penulis Israel tampaknya
mengambil dan memanfaatkan teks-teks Mesopotamia itu untuk mengungkap keyakinan
mereka, sekaligus menyesuaikannya dengan keyakinan itu, terutama di bidang
monoteisme.
Salah satu kemungkinan datangnya
pengaruh Mesopotamia dalam kitab Kejadian adalah bahwa kisah-kisah Mesopotamia
dibawa ke Palestina lalu menyebar-saat terjadi perpindahan penduduk
besar-besaran dari Mesopotamia yang disebabkan situasi yang agak kacau sekitar
abad 19 SM. Kiranya ini juga yang menjadi konteks berpindahnya keluarga Abraham
dari Ur ke Haran, lalu ke Kanaan.
Berbagai kebiasaan dan peraturan
yang tercermin dalam kitab Kejadian ternyata juga menemukan banyak kesamaan
dengan kebiasaan dan peraturan yang hidup di daerah Mesopotamia. Sebagai
contoh, kekhawatiran Abraham karena dia tidak mendapat keturunan, karena itu
harus mewariskan segala miliknya kepada abdinya yang setia, Eliezer (Kejadian
15,1-4), ternyata sejajar dengan praktik yang dilakukan masyarakat Nuzi yang
mendiami sebelah timur Sungai Tigris. Hal ini bisa diketahui melalui analisis
teks-teks hukum yang berlaku di Nuzi, yang berasal dari abad 15 SM. Kisah
tentang Abraham yang datang ke negeri asing lalu mengaku istrinya sebagai
saudarinya (Kejadian 12,10-20) sering membingungkan orang. Tetapi, kini, dengan
ditemukannya teks-teks yang berasal dari bangsa Hori di sebelah utara
Mesopotamia, berdekatan dengan Haran, hal itu bisa dipahami dengan lebih baik.
Dalam masyarakat Hori, ikatan
perkawinan yang paling kuat adalah jika seorang istri sekaligus mendapat status
saudari secara hukum. Karena itu, sering terjadi, sesudah perkawinan diadakan
upacara lain untuk mengadopsi sang istri menjadi saudari. Hal ini disahkan dengan
dua dokumen. Pertama, dokumen tentang perkawinan. Kedua, berkait dengan
pengangkatannya sebagai saudari.
Matthias Henze menunjukkan bahwa kegilaan Nebukadnezar dalam
Kitab Daniel mengacu pada Epos Gilgames. Dia mengklaim bahwa penulis
menggunakan unsur-unsur dari deskripsi Enkidu untuk melukis potret sarkastik
dan mengejek raja Babel.
Salah satu warisan peradaban
Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum
yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu
hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan
arkeolog Perancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang
kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi
dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash,
dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan. Perbandingan dengan
kumpulan hukum yang ada dalam kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya
kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu
tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya
merupakan sesuatu yang amat masuk akal.
Codex Hammurabi, yang terdiri
dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan
hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode
selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu
adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di
Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai
kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.
Budaya
Patung pria Sumeria dengan sikap tubuh seorang peserta
upacara pemujaan, terbuat dari pualam dengan mata dari cangkang kerang,
2750-2600 SM
Hari raya
Bangsa Mesopotamia Kuno setiap bulan menyelenggarakan
upacara-upacara. Tema upacara dan perayaan untuk tiap-tiap bulan ditentukan
oleh sekurang-kurangnya enam faktor utama:
Pergantian penampakan bulan (paro-terang bermakna kelimpahan
dan pertumbuhan, sedangkan paro-gelap dikait-kaitkan dengan penurunan,
pelestarian, dan perayaan "Alam Bawah"")
Pergantian musim
bercocok-tanam
Titik katulistiwa matahari dan
titik balik matahari Mitos-mitos setempat beserta dewa-dewi yang terkait
dengannya Keberhasilan dari raja yang berkuasa saat itu. Akitu, atau perayaan
Tahun Baru (purnama pertama sesudah matahari melintasi katulistiwa di musim
semi).
Peringatan peristiwa-peristiwa bersejarah (hari pendirian,
kemenangan-kemenangan perang, hari-hari suci bagi kuil, dst.)
Olahraga
Perburuan populer di kalangan
raja-raja Asyur. Tinju dan gulat kerap ditampilkan dalam seni rupa, dan
beberapa bentuk permainan polo agaknya merupakan olahraga yang populer, dengan
pemain yang duduk di atas pundak orang bukannya di atas punggung kuda.[17]
Mereka juga memainkan majore, sebuah permainan yang mirip rugbi, tetapi
dimainkan dengan sebuah bola yang terbuat dari kayu. Mereka juga memainkan
sebuah permainan papan yang mirip dengan senet dan backgammon, dan yang kini
dikenal sebagai "Permainan Kerajaan dari Ur."
Ekonomi dan pertanian
Area-area tambang di Asia
BaratKuno. Warna kotak: cokelat untuk arsen, merah untuk tembaga, kelabu untuk
timah, cokelat kemerah-merahan untuk besi, kuning untuk emas, putih untuk
perak, hitam untuk timbal. Warna area: kuning untuk perunggu lakuran arsen ,
kelabu untuk perunggu lakuran timah.
Budi daya tanaman pangan yang dibantu irigasi menyebar dari
pegunungan Zagros ke arah selatan bersama dengan peradaban Samara dan peradaban
Hadji Muhammed sejak sekitar 5,000 SM.[18] Kuil-kuil Sumeria berfungsi sebagai
bank dan mengembangkan sistem pinjaman dan kredit berskala besar yang pertama, tetapi
bangsa Babilonia yang mengembangkan sistem perbankan dagang yang pertama.
Perekonomian Mesopotamia dalam satu dan lain hal dapat dibandingkan dengan ilmu
ekonomi pasca-Keynes, tetapi dengan suatu pendekatan yang cenderung "apa
saja boleh".
Sejak permulaan sejarah
Mesopotamia sampai dengan zaman Ur III, kuil-kuil menguasai sampai dengan
sepertiga dari seluruh lahan yang ada, namun jumlah itu menurun dari waktu ke
waktu seiring peningkatan kepemilikan tanah oleh pihak istana dan orang-orang
pribadi. Ensi adalah kata yang digunakan sebagai sebutan bagi orang yang
bertugas mengatur pekerjaan untuk segala macam usaha pertanian di lahan-lahan
milik kuil. Rakyat jelata diketahui sebagai golongan yang paling sering bekerja
di bidang pertanian sebagai petani-petani penggarap, khususnya di lahan-lahan
milik kuil atau istana.
Kondisi geografi Mesopotamia
selatan hanya memungkinkan penyelenggaraan pertanian jika dikelola dengan
irigasi dan drainase yang baik. Kenyataan ini berdampak besar pada evolusi
peradaban Mesopotamia awal. Kebutuhan akan irigasi mendorong bangsa Sumeria,
dan selanjutnya bangsa Akkadia, untuk membangun kota-kota mereka di sepanjang
tepian sungai Tigris dan Efrat serta cabang-cabangnya. Kota-kota besar seperti
Ur dan Uruk, bertempat di sekitar anak-anak Sungai Efrat, sedangkan kota-kota
lain, khususnya Lagash, didirikan dekat cabang-cabang Sungai Tigris.
Sungai-sungai juga memiliki
manfaat lain sebagai sumber pasokan ikan (baik sebagai bahan pangan maupun
sebagai pupuk), gelagah, dan lempung (untuk bahan bangunan). Berkat irigasi,
pasokan pangan di Mesopotamia sebanding dengan pasokan pangan di padang-padang
rumput Kanada. Lembah sungai Tigris dan lembah Sungai Efrat merupakan bagian
timur laut dari bentangan Hilal Subur yang juga meliputi lembah Sungai Yordan
dan lembah Sungai Nil. Jika semakin dekat dengan sungai membuat lahan menjadi
subur dan baik untuk ditanami, maka sebaliknya jarak yang semakin jauh dari
sungai membuat lahan menjadi kering dan sebagian besar tidak dapat dihuni. Itulah
sebabnya perkembangan irigasi sangat penting artinya bagi para penduduk
Mesopotamia.
Inovasi-inovasi bangsa
Mesopotamia lainnya adalah pengendalian laju air dengan bendungan serta
pemanfaatan saluran-saluran air. Orang-orang yang mula-mula menempati tanah
yang subur di Mesopotamia mempergunakan luku kayu untuk menggemburkan tanah
sebelum ditanami jelai, bawang, anggur, lobak, atau pun apel. Penduduk
Mesopotamia terbilang di antara orang-orang pertama yang membuat bir dan tuak
anggur. Dilibatkannya keterampilan dalam bertani di Mesopotamia membuat para
petani tidak tidak bergantung pada budak belian untuk merampungkan pengerjaan
lahan-lahan mereka, akan tetapi ada pula beberapa pengecualian.
Tingginya risiko mempekerjakan
budak belian (budak belian melarikan diri atau memberontak) membuat banyak
petani menghindarinya. Meskipun sungai-sungai menjadi penyokong hidup penduduk
Mesopotamia, sungai-sungai jualah yang menghancurkannya dengan banjir yang
kerap meluap dan meluluh-lantakkan seisi kota. Cuaca Mesopotamia yang sukar
ditebak seringkali tidak berpihak pada para petani; tanaman-tanaman pangan
sering dirusak cuaca sehingga orang perlu memelihara sumber-sumber pangan
cadangan seperti lembu dan biri-biri. Seiring berlalunya waktu, daerah-daerah
paling selatan di Mesopotamia menderita akibat meningkatnya kadar garam pada
tanah, sehingga mengakibatkan kota-kota lambat-laun ditinggalkan orang dan
terjadi pemusatan kekuasaan di Akkad yang letaknya jauh lebih ke utara.
Pemerintahan
Geografi Mesopotamia sangat
berdampak pada perkembangan politik di wilayah itu. Di antara sungai dan kali,
orang-orang Sumeria mendirikan kota-kota perdana berikut saluran-saluran
irigasinya yang terpisahkan satu sama lain oleh bentangan gurun atau rawa yang luas
dan terbuka, tempat berkeliaran suku-suku pengembara. Komunikasi antar
kota-kota terisolasi itu sulit dan terkadang berbahaya jika dilakukan. Oleh
karena itu, masing-masing kota Sumeria menjadi sebuah negara kota yang merdeka
dan gigih mempertahankan kemerdekaannya. Kadang-kadang salah satu kota akan
mencoba menaklukkan dan mempersatukan kota-kota yang sewilayah dengannya,
tetapi upaya-upaya semacam itu mendapat perlawanan dan tertumbuk pada kegagalan
selama berabad-abad. Akibatnya, sejarah politik Sumer penuh dengan peperangan
yang berlangsung nyaris tanpa henti. Pada akhirnya Sumer pun dipersatukan oleh
Eannatum, tetapi persatuan itu rapuh dan gagal bertahan, karena bangsa Akkadia
berjaya menaklukkan Sumeria pada 2331 SM hanya satu generasi sesudahnya. Kekaisaran
Akkadia adalah kekaisaran pertama yang mampu bertahan melampaui satu generasi
dan menyelenggarakan alih kepemimpinan raja-raja secara damai. Umur kekaisaran
ini relatif singkat, karena ditaklukkan bangsa Babilonia setelah bertahan
selama beberapa generasi.
Raja-raja
Jabatan raja ini diyakini diberikan oleh para dewata dan
dapat dialihkan dari satu kota ke kota yang lainnya melalui penaklukan militer.
Daftar ini menyebutkan hanya satu perempuan penguasa: Kug-Baba, sang pemilik
kedai minuman, satu-satunya orang yang mewakili dinasti ketiga Kish.
Daftar ini menggabungkan raja-raja mitologis dari masa
sebelum air bah, dengan masa-masa pemerintahan yang luar biasa panjangnya,
dengan dinasti-dinasti yang mungkin lebih historis. Tidak dapat disangkal bahwa
kebanyakan dari nama-nama yang terdahulu dalam daftar ini merujuk kepada
penguasa-penguasa historis yang belakangan menjadi tokoh-tokoh legendaris.
Nama pertama dalam daftar ini yang keberadaannya telah
dipastikan melalui penemuan-penemuan arkeologis belakangan ini, adalah nama
Enmebaragesi dari Kish, yang namanya juga disebutkan dalam Epos Gilgames. Hal
ini menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa Gilgames sendiri adalah
seorang raja historis dari Uruk, yang memerintah sekitar 2600 SM dalam Dinasti
Pertama di Uruk. Selain itu, Dumuzi adalah salah satu ejaan dari nama dewa
alam, Tammuz, yang biasanya dijuluki sebagai sang nelayan atau sang gembala.
Anehnya, dalam daftar ini tidak terdapat para penguasa yang
juga imam dari Lagash, yang diketahui langsung dari prasasti-prasasti dari
sekitar abad ke-25 SM. Penguasa awal lainnya di dalam daftar ini yang jelas
historis adalah Lugal-Zage-Si dari Uruk dari abad ke-23 SM, yang menaklukkan
Lagash, dan yang kemudian ditaklukkan oleh Sargon dari Akkad.
Daftar ini penting, karena tidak adanya sumber lain yang
lebih akurat, bagi kronologi dari milennium ke-3 SM. Namun, keberadaan daftar
dinasti yang kemungkinan memerintah pada waktu yang bersamaan, tetapi di
kota-kota yang berbeda, membuat kita tidak mungkin mempercayai tambahan
tokoh-tokoh lain untuk menghasilkan sebuah kronologi yang ketat. Dengan
memperhitungkan hal ini, banyak masa pemerintahan yang telah direvisi pada
tahun-tahun belakangan, dan pada umumnya kini ditempatkan pada masa yang jauh
di kemudian hari daripada masa pemerintahan yang dicantumkan dalam
penerbitan-penerbitan yang lebih tua, kadang-kadang sampai satu milennium.
Sebagian malah telah mengusulkan pembacaan kembali satuan-satuan yang diberikan
dalam angka-angka yang lebih realistis, seperti misalnya memperhitungkan
tokoh-tokoh, yang diberikan dalam sar (satuan yang terdiri dari 3600) untuk
masa sebelum air bah, dalam dasawarsa atau bahkan semata-mata tahun saja.
Ketidakpastian, khususnya dengan masa periode Gutium, juga membuat pemastian
tanggal-tanggal untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Dinasti Ketiga
Ur (sekitar abad ke- SM) secara akurat praktis tidak mungkin (lihat pula
Shulgi, Ur-Nammu).
Beberapa dari prasasti paling terdahulu yang diketahui
memuat daftar yang berasal dari awal milennium ke-3 SM; misalnya, Prisma
Weld-Blundell diperkirakan dari 2170 SM. Daftar raja-raja Bablonia dan Asyur
yang belakangan yang didasarkan pada prisma ini masih menyimpan bagian-bagian
yang paling awal dari daftar ini hingga abad ke-3 SM, ketika Berossus
memopulerkan daftar ini di dunia Helenis. Karena menyangkut periode waktu yang
sangat panjang, nama-namanya mau tak mau kemudian menjadi rusak, dan versi
Yunani Berossus dari daftar ini, ironisnya salah satu dari yang paling tua yang
dikenal oleh para akademikus modern, memperlihatkan transkripsi nama-nama yang
sangat aneh.
Raja-raja
Dinasti I Awal
Raja-raja dari masa sebelum air bah, legendaris atau dari
masa sebelum abad ke-25 SM. Pemerintahan mereka diusur dalam sar - yakni
periode yang 3600 tahun lamanya - satuan berikutnya setelah 50 dalam
penghitungan Sumeria (3600 = 60x60), dan dalam ner - satuan yang terdiri dari
600.
"Setelah kedudukan raja turun dari surga, kerajaan
berada di Eridu(g). Di Eridu(g), Alulim menjadi raja; ia memerintah selama
28800 tahun."
Alulim dari Eridu(g): 8 sar (28800 tahun)
Alalgar dari Eridug: 10 sar (36000 tahun)
En-Men-Lu-Ana dari Bad-Tibira: 12 sar (43200 tahun)
En-Men-Ana 1, 2
En-Men-Gal-Ana dari Bad-Tibira: 8 sar (28800 tahun)
Dumuzi dari Bad-Tibira, sang gembala: 10 sar (36000 tahun)
En-Sipad-Zid-Ana dari Larag: 8 sar (28800 tahun)
En-Men-Dur-Ana dari Zimbir: 5 sar dan 5 ner (21000 tahun)
Ubara-Tutu dari Shuruppag: 5 sar dan 1 ner (18600 tahun)
Zin-Suddu 1
1. Kedua nama ini terdapat dalam setengah lebih sedikit dari
versi-versi daftar raja Sumeria, tetapi tidak ada di dalam daftar lainnya.
2. Sebagai ganti En-Men-Ana di beberapa versi daftarnya
ditemukan nama Kichu-Ana
Dinasti II Awal
Sekitar abad ke-26 SM. Banyak penguasa dari
prasasti-prasasti sezaman tidak ditemukan dalam Daftar Raja-raja.
"Setelah air bah memusnahkan semuanya, dan jabatan raja
turun dari langit, kerajaan berada di Kish."
Dinasti Pertama Kish
Jushur dari Kish: 1200 tahun
Kullassina-bel dari Kish: 960 tahun
Nangishlishma dari Kish: 670 tahun
En-Tarah-Ana dari Kish: 420 tahun
Babum dari Kish: 300 tahun
Puannum dari Kish: 840 tahun
Kalibum dari Kish: 960 tahun
Kalumum dari Kish: 840 tahun
Zuqaqip dari Kish: 900 tahun
Atab dari Kish: 600 tahun
Mashda dari Kish: 840 tahun
Arwium dari Kish: 720 tahun
Etana dari Kish, sang gembala, yang naik ke surga dan
mengkonsolidasikan semua negara asing: 1500 tahun
Balih dari Kish: 400 tahun
En-Me-Nuna dari Kish: 660 tahun
Melem-Kish dari Kish: 900 tahun
Barsal-Nuna dari Kish: 1200 tahun
Zamug dari Kish: 140 tahun
Tizqar dari Kish: 305 tahun
Ilku dari Kish: 900 tahun
Iltasadum dari Kish: 1200 tahun
En-Men-Barage-Si dari Kish, yang menaklukkan Elam: 900 tahun
(ini adalah penguasa paling awal dalam daftar ini yang dikonfirmasikan secara
terpisah dari bukti-bukti epigraf )
Aga dari Kish: 625 tahun
Kemudian Kish ditaklukkan dan kerajaan diambil ke E-ana.
Dinasti Pertama Uruk
Mesh-ki-ang-gasher dari E-ana, putera Utu: 324 tahun.
Mesh-ki-ang-gasher pergi ke Laut lalu menghilang.dia juga
telah bekuasa dalam perang utu
Enmerkar, yang membangun Unug: 420 tahun
Lugalbanda dari Unug, sang gembala: 1200 tahun
Dumuzid dari Unug, sang nelayan: 100 tahun. Merebut
En-Men-Barage-Si dari Kish.
Gilgamesh, yang ayahnya adalah "hantu", penguasa
Kulaba: 126 tahun.
Ur-Nungal dari Unug: 30 tahun
Udul-Kalama dari Unug: 15 tahun
La-Ba'shum dari Unug: 9 tahun
En-Nun-Tarah-Ana dari Unug: 8 tahun
Mesh-He dari Unug: 36 tahun
Melem-Ana dari Unug: 6 tahun
Lugal-Kitun dari Unug: 36 tahun
Kemudian Uruk dikalahkan dan kerajaan dibawa ke Urim.
Dinasti Pertama Ur
sekitar abad ke-25 SM
Mesh-Ane-Pada dari Urim: 80 tahun
Mesh-Ki-Ang-Nanna dari Urim: 36 tahun
Elulu dari Urim: 25 tahun
Balulu dari Urim: 36 tahun
Kemudian Urim dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Awan.
Dinasti III Awal
Dinasti awal Lagash tidak
disebutkan dalam Daftar Raja-raja, meskipun dari prasasti-prasasti dinasti ini
diketahui memang ada.
Awan
Tiga raja dari Awan, yang keseluruhannya memerintah selama
356 tahun. Lalu Awan dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Kish.
Dinasti Kedua Kish
Susuda dari Kish: 201 tahun
Dadasig dari Kish: 81 tahun
Mamagal dari Kish, the boatman: 360 tahun
Kalbum dari Kish: 195 tahun
Tuge dari Kish: 360 tahun
Men-Nuna dari Kish: 180 tahun
? dari Kish: 290
tahun
Lugalngu dari Kish: 360 tahun
Kemudian Kish dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Hamazi.
Hamazi
Hadanish dari Hamazi: 360 tahun
Kemudian Hamazi dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Unug.
Dinasti Kedua Uruk
En-Shakansha-Ana dari Unug: 60 tahun
Lugal-Ure (atau Lugal-Kinishe-Dudu) dari Unug: 120 tahun
Argandea dari Unug: 7 tahun
Kemudian Unug dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Urim.
Dinasti Kedua Ur
Nani dari Urim: 120 tahun
Mesh-Ki-Ang-Nanna dari Urim: 48 tahun
? dari Urim: 2 tahun
Kemudian Urim dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Adab.
Adab
Lugal-Anne-Mundu dari Adab: 90 tahun
Kemudian Adab dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Mari.
Mari
Anbu dari Mari: 30 tahun
Anba dari Mari: 17 tahun
Bazi dari Mari: 30 tahun
Zizi dari Mari: 20 tahun
Limer dari Mari, imam gudu: 30 tahun
Sharrum-Iter dari Mari: 9 tahun
Kemudian Mari dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Kish.
Dinasti Ketiga Kish
Kug-Baba dari Kish, perempuan pemilik kedai minuman, yang
membangun dasar yang kukuh di Kish: 100 tahun (perempuan satu-satunya dalam
Daftar Raja-raja)
Kemudian Kish dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Akshak.
Akshak
Unzi dari Akshak: 30 tahun
Undalulu dari Akshak: 6 tahun
Urur dari Akshak: 6 tahun
Puzur-Nirah dari Akshak: 20 tahun
Ishu-Il dari Akshak: 24 tahun
Shu-Sin dari Akshak: 7 tahun
Kemudian Akshak dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Kish.
Dinasti Keempat Kish
Puzur-Sin dari Kish: 25 tahun
Ur-Zababa dari Kish: 400 (6?) tahun
Zimudar dari Kish: 30 tahun
Ussi-Watar dari Kish: 7 tahun
Eshtar-Muti dari Kish: 11 tahun
Ishme-Shamash dari Kish: 11 tahun
Shu-Ilishu dari Kish: 15 tahun
Nanniya dari Kish, sang pembuat permata: 7 tahun.
Kemudian Kish dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Unug.
Dinasti Ketiga Uruk
Lugal-Zage-Si dari Unug: 25 tahun
(2259 SM–2235 SM kronologi singkat) mengalahkan Lagash.
Akkadia[sunting | sunting sumber]
Sargon, yang ayahnya adalah seorang tukang kebun, juru
minuman Ur-Zababa, raja (kaisar pertama) Agade, yang membangun Agade: 40 tahun
(l.k. 2235 SM kronologi singkat)
Rimush, putra Sargon yang lebih muda: 9 tahun
Man-Ishtishu, putra Sargon yang lebih tua : 15 tahun
Naram-Sin, putra Man-Ishtishu: 56 tahun
Shar-Kali-Sharri, putra Naram-Sin: 25 tahun
Kemudian siapakah yang menjadi raja? Siapakah rajanya?
Irgigi, Imi, Nanum, Ilulu: empat dari mereka hanya berkuasa
selama 3 tahun
Dudu: 21 tahun
Shu-Durul, putra Dudu: 15 tahun
Kemudian Agade dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke Unug.
Dinasti Keempat Uruk
(Kemungkinan para penguasa Mesopotamia hilir yang sezaman
dengan dinasti Akkadia)
Ur-Ningin dari Unug: 7 tahun
Ur-Gigir dari Unug: 6 tahun
Kuda dari Unug: 6 tahun
Puzur-Ili dari Unug: 5 tahun
Ur-Utu (atau Lugal-Melem) dari Unug: 25 tahun
Unug dikalahkan dan kerajaan dipindahkan ke tentara Gutium.
Periode Gutium
Di kalangan tentara Gutium, mula-mula tidak ada raja yang
terkenal; mereka menjadi raja atas diri sendiri dan memerintah selama 3 tahun
Inkishush dari Gutium: 6 tahun
Zarlagab dari Gutium: 6 tahun
Shulme (atau Yarlagash) dari Gutium: 6 tahun
Silulumesh (atau Silulu) dari Gutium: 6 tahun
Inimabakesh (atau Duga) dari Gutium: 5 tahun
Igeshaush (atau Ilu-An) dari Gutium: 6 tahun
Yarlagab dari Gutium: 3 tahun
Ibate dari Gutium: 3 tahun
Yarla dari Gutium: 3 tahun
Kurum dari Gutium: 1 year
Apil-Kin dari Gutium: 3 tahun
La-Erabum dari Gutium: 2 tahun
Irarum dari Gutium: 2 tahun
Ibranum dari Gutium: 1 year
Hablum dari Gutium: 2 tahun
Puzur-Sin dari Gutium: 7 tahun
Yarlaganda dari Gutium: 7 tahun
? dari Gutium: 7
tahun
Tiriga dari Gutium: 40 hari
Uruk[sunting | sunting sumber]
Utu-hegal dari Unug: catatan masa pemerintahannya
berbeda-beda (427 tahun / 26 tahun / 7 tahun)
mengusir orang-orang Gutium
Dinasti Ketiga Ur[sunting | sunting sumber]
"Renaisans Sumeria "
Ur-Nammu dari Urim: 18 tahun
ruled ca. 2065 SM–2047 SM kronologi singkat.
Shulgi: 46 tahun
ruled ca. 2047 SM–1999 SM kronologi singkat.
Amar-Sina dari Urim: 9 tahun
Shu-Sin dari Urim: 9 tahun
Ibbi-Sin dari Urim: 24 tahun
Kemudian Urim dikalahkan. Fondasi Sumeria dicabik-cabik (?)
Kerajaan dipindahkan ke Isin.
Dinasti Isin
Negara-negara Amori yang independen di Mesopotamia hilir.
Dinastinya berakhir pada sekitar 1730 SM kronologi singkat.
Ishbi-Erra dari Isin: 33 tahun
Shu-ilishu dari Isin: 20 tahun
Iddin-Dagan dari Isin: 20 tahun
Ishme-Dagan dari Isin: 20 tahun
Lipit-Eshtar dari Isin 11 tahun
Ur-Ninurta dari Isin (putra Ishkur, kiranya ia memperoleh
kelimpahan, pemerintahan yang baik, dan kehidupan yang manis selama
bertahun-tahun): 28 tahun
Bur-Sin dari Isin: 5 tahun
Lipit-Enlil dari Isin: 5 tahun
Erra-Imitti dari Isin: 8 tahun
Enlil-Bani dari Isin: 24 tahun (untuk merayakan Tahun Baru
tukang kebun raja diangkat sebagai 'raja sehari' kemudian dikorbankan, raja
meninggal pada perayaan. Enlil-Bani tetap pada takhtanya.)
Zambiya dari Isin: 3 tahun
Iter-Pisha dari Isin: 4 tahun
Ur-Dul-Kuga dari Isin: 4 tahun
Suen-magir dari Isin: 11 tahun
Damiq-ilicu dari Isin: 23 tahun
Ada 11 kota, kota-kota di mana kekuasaan kerajaan
dijalankan. Seluruhnya ada 134 orang raja, yang bersama-sama memerintah selama
28876 + X tahun.
Bangsa Mesopotamia percaya bahwa
raja-raja dan ratu-ratu mereka adalah keturunan dari warga Kota Dewa-Dewa, akan
tetapi tidak seperti bangsa Mesir Kuno, mereka tidak pernah meyakini bahwa
raja-raja mereka adalah dewa-dewa sejati.[22] Sebagian besar raja-raja
menggelari dirinya “raja semesta alam” atau “raja agung”. Gelar lainnya yang
lazim dipakai adalah “gembala”, karena raja-raja harus memperhatikan peri
kehidupan rakyatnya.
Kekuasaan
Ketika tumbuh menjadi sebuah
kekaisaran, wilayah kekuasaan Asyur dibagi-bagi menjadi daerah-daerah yang
disebut provinsi. Tiap-tiap provinsi dinamakan menurut nama kota utamanya,
seperti Niniwe, Samaria, Damsyik, dan Arpad. Semua provinsi dikepalai
gubernurnya masing-masing yang bertugas memastikan setiap orang membayar
pajaknya. Para gubernur juga wajib menghimpun pasukan untuk maju berperang dan
menyalurkan tenaga kerja bilamana ada pembangunan kuil. Seorang gubernur juga
bertanggung jawab atas penerapan hukum di provinsi yang dipimpinnya. Cara ini
memudahkan pengendalian sebuah kekaisaran besar. Walaupun sebelumnya cuma
sebuah negara kecil di Sumeria, Babel tumbuh pesat selama masa pemerintahan
Hammurabi. Ia dikenal sebagai “pencipta aturan hukum”, dan segera saja Babel
menjadi salah satu kota utama di Mesopotamia. Kelak Babel disebut Babilonia,
yang berarti "gapura dewa-dewa." Kota ini juga menjadi salah satu
pusat pembelajaran terbesar dalam sejarah.
Peperangan
Sekeping pecahan dari Prasasti
Burung Nazar yang memperlihatkan pasukan perang yang sedang berbaris, zaman
dinasti awal III, 2600–2350 SM.
Dengan berakhirnya zaman
kekuasaan Uruk, tumbuh kota-kota bertembok dan banyak desa terpencil dari zaman
Ubaid ditinggalkan yang menyiratkan adanya peningkatan kekerasan yang dilakukan
secara berkelompok. Seorang raja awal Lugalbanda diduga telah membangun tembok
putih mengitari kota itu. Begitu negara-negara kota mulai tumbuh, lingkup
jangkauan pengaruh mereka pun saling tumpang-tindih sehingga menimbulkan
perdebatan di antara negara-negara kota lainnya, khususnya menyangkut tanah dan
terusan-terusan. Perdebatan-perdebatan ini dicatat pada loh-loh lempung
beberapa ratus tahun sebelum pecah perang-perang besar—catatan pertama mengenai
peperangan ditulis sekitar 3200 SM namun belum menjadi suatu kelaziman sampai
kira-kira 2500 SM. Seorang raja Dinasti Awal II (Ensi) Uruk di Sumer, Gilgamesh
(2600 SM), disanjung karena keberhasilannya dalam bertempur melawan Humbaba,
penjaga Pegunungan Aras, dan kelak dalam banyak sajak dan kidung ia dipuja-puji
pula sebagai makhluk dua pertiga dewa dan hanya sepertiga manusia. Tugu
Prasasti Burung Nazar yang berasal dari akhir zaman Dinasti Awal III (2600–2350
SM), yang dibuat untuk memperingati kemenangan Eannatum dari Lagash atas kota
tetangga saingannya Umma, adalah monumen tertua di dunia yang dibuat sebagai
pernyataan pujian atas sebuah tindakan pembantaian.[23] Mulai dari saat itu
sampai seterusnya, peperangan dijadikan bagian dari sistem politik Mesopotamia.
Sesekali sebuah kota yang netral dapat bertindak selaku penengah bagi dua kota
yang saling berseteru. Keadaan ini mendorong terbentuknya persatuan-persatuan
antar-kota yang kelak berkembang menjadi negara-negara kedaerahan.[22] Tatkala
kekaisaran-kekaisaran terwujud, mereka pun maju berperang tetapi lebih sering
melawan negara-negara asing. Raja Sargon misalnya, menaklukkan seluruh kota di
Sumer, beberapa kota di Mari, dan kemudian maju berperang melawan Suriah utara.
Banyak dinding istana Asiria dan Babilonia dihiasi dengan gambar-gambar
mengenai pertempuran-pertempuran yang berhasil dimenangkan dan seteru yang lari
kocar-kacir atau bersembunyi dibalik rumpun-rumpun gelagah.
Hukum
Negara-negara kota Mesopotamia
menyusun naskah hukum mereka dengan bersumber pada keputusan-keputusan
peradilan dan undang-undang raja-raja. Naskah hukum Urukagina dan Lipit Isytar
telah ditemukan. Naskah hukum paling terkenal berasal dari Hammurabi, yang termasyhur
setelah kematiannya berkat perangkat aturan hukum yang disusunnya, yakni Naskah
Hukum Hammurabi (disusun ca. 1780 SM), yang merupakan salah satu perangkat
hukum tertua yang pernah ditemukan dan salah satu contoh dokumen sejenis yang
berasal dari Mesopotamia Kuno. Hammurabi menetapkan 200 lebih aturan hukum bagi
Mesopotamia. Kajian atas aturan-aturan ini menunjukkan makin lemahnya hak-hak
perempuan, dan makin kejamnya perlakuan terhadap budak belian[24]
Seni rupa
Seni rupa Mesopotamia menyaingi
Seni rupa Mesir Kuno baik dari segi kemegahan, kecanggihan, maupun tingkat
kerumitannya di kawasan barat Eurasia sejak milenium ke-4 SM sampai wilayah itu
ditaklukkan Kekaisaran Akhemeniyah Persia pada abad ke-6 SM. Peninggalan seni
rupa Mesopotamia sebagian besar berupa berbagai jenis patung batu dan tanah
liat yang sangat tahan lama sifatnya; hanya sedikit peninggalan berupa lukisan
yang mampu menyintasi zaman, namun peninggalan-peninggalan itu menyiratkan
bahwa lukisan-lukisan Mesopotamia umumnya berupa pembubuhan warna pada
pola-pola hiasan geometris dan tumbuh-tumbuhan, meskipun sebagian besar
patung-patung juga diwarnai.
Pada zaman melek-aksara perdana,
tatkala Mesopotamia berada di bawah kekuasaan Uruk, dihasilkan karya-karya yang
canggih seperti Bejana Warka dan stempel-stempel silinder. Singa Betina Guennol
adalah sebuah patung batugamping kecil yang menarik dari Elam sekitar 3000–2800
SM, berwujud separuh manusia dan separuh singa.[25] Tak lama sesudah zaman itu
muncul sejumlah patung berwujud imam-imam dan pemuja-pemuja bermata besar,
sebagian besar terbuat dari pualam dengan tinggi mencapai satu kaki, yang
tampak tengah menghadiri upacara penyembahan berhala di kuil, namun hanya
sejumlah kecil patung-patung ini yang menyintas.[26]Patung-patung dari zaman
Sumeria dan Akkadia umumnya bermata besar membelalak dan berjanggut panjang
pada sosok pria. Banyak pula mahakarya yang telah ditemukan di makam kerajaan
di Ur (ca. 2650 SM), termasuk dua patung domba dalam belukar, lembu tembaga,
dan sebuah kepala lembu pada salah satu di antara lira-lira dari Ur.
Dari zaman-zaman berikutnya
sebelum bangkitnya Kekaisaran Asiria Baru, seni rupa Mesopotamia menyintas
dalam beberapa wujud: stempel-stempel silinder, patung-patung utuh yang relatif
kecil, dan relief-relief dalam berbagai ukuran, termasuk plakat-plakat murah
dari gerabah cetakan untuk rumah tinggal, sebagian berkaitan dengan keagamaan
dan sebagian lagi tampaknya tidak.
Relief Burney adalah sebuah
plakat terakota dengan tingkat kerumitan yang tidak seperti biasanya dan
relatif besar ukurannya (20 x 15 inci) memperlihatkan sesosok dewi bersayap dan
berkaki burung pemangsa, dikawal burung-burung hantu dan singa-singa. Relief
ini berasal dari abad ke-18 atau ke-19 SM, dan mungkin pula merupakan hasil
cetakan.[29] Tugu-tugu batu prasasti, persembahan-persembahan nazar, atau
plakat-plakat peringatan kemenangan-kemenangan perang dan pesta-pesta perayaan,
ditemukan pula di kuil-kuil, yang tidak seperti barang-barang sejenis keluaran
pemerintah yang lebih resmi sifatnya, tidak memuat cukup banyak tulisan untuk
menjelaskan barang-barang itu;
Kepingan tugu Prasasti Burung
Nazar adalah sebuah contoh awal peninggalan barang-barang bertulisan, dan
Obelisk Hitam Salmaneser III dari Asyur adalah peninggalan bertulisan yang
besar dan kokoh dari zaman kemudian.
Ditaklukkannya seluruh
Mesopotamia dan wilayah-wilayah di sekitarnya oleh bangsa Asyur menjadikan
negeri itu lebih besar dan lebih makmur dari pada sebelumnya, dan dipajangnya
karya seni yang sangat memukau di istana-istana dan tempat-tempat umum pastilah
dimaksudkan pula untuk menyaingi semarak seni rupa negeri tetangga mereka,
Kekaisaran Mesir. Bangsa Asyur mengembangkan sebuah gaya seni berupa
latar-latar yang sangat luas diisi relief-relief pipih naratif yang ditatah
dengan sangat rinci pada batu untuk istana-istana, menampilkan adegan-adegan
peperangan atau perburuan; British Museum memiliki sekumpulan relief semacam
itu. Bangsa Asyur menghasilkan sangat sedikit patung yang dipahat utuh, kecuali
untuk sosok-sosok raksasa penjaga, kerapkali berwujud lamassuberkepala manusia,
yang dipahat menjadi relief timbul pada dua sisi balok persegi, dengan bagian
kepala berupa pahatan utuh (dan juga kelima tungkainya, sehingga tampak
terpahat utuh dari masing-masing sisi balok). Bahkan sebelum menguasai
Mesopotamia mereka telah meneruskan tradisi pembuatan stempel silinder dengan
rancangan-rancangan yang seringkali tampak hidup dan penuh cita rasa seni.
Arsitektur
Kajian mengenai seni bina
Mesopotamia Kuno didasarkan pada bukti-bukti arkeologi yang tersedia,
gambar-gambar berwujud bangunan, dan naskah-naskah tentang pelaksanaan
pembangunan. Karya-karya ilmiah biasanya berkonsentrasi pada kuil-kuil,
istana-istana, tembok-tembok dan gerbang-gerbang kota, serta bangunan-bangunan
monumental lainnya, namun sesekali dihasilkan pula karya ilmiah terkait seni
bina rumah tinggal. Survei permukaan dalam lingkup arkeologi juga telah
memungkinkan pembuatan kajian mengenai tata ruang perkotaan di kota-kota
Mesopotamia awal.
Batu-bata merupakan bahan
bangunan yang paling banyak digunakan karena tersedia dekat dan cuma-cuma,
sementara batu bangunan harus didatangkan dari tempat-tempat yang cukup jauh
dari sebagian besar kota-kota itu. Ziggurat adalah bentuk bangunan yang paling
menonjol, dan kota-kota seringkali memiliki gerbang-gerbang besar. Yang paling
masyhur dari gerbang-gerbang itu adalah Gerbang Isytar dari kota Babel yang
dibangun pada era Babilonia Baru, dihiasi hewan-hewan yang dibentuk pada
batu-bata beraneka warna, dan yang sebagian besar kini menjadi koleksi Pergamon
Museum di Berlin.
Sisa-sisa bangunan yang paling
menonjol dari zaman awal Mesopotamia adalah gugus-gugus bangunan kuil di Uruk
dari milenium ke-4 SM, kuil-kuil dan istana-istana di situs-situs periode
Dinasti Awal di lembah Sungai Diyalaseperti Khafajah dan Tell Asmar, sisa-sisa
peninggalan Dinasti ketiga Ur di Nippur (Tempat suci Enlil) dan Ur (Tempat suci
Nanna), sisa-sisa peninggalan dari pertengahan Zaman Perunggu di situs-situs
Suriah-Turki seperti Ebla, Mari, Alalakh, Aleppo dan Kultepe, istana-istana
dari akhir Zaman Perunggu di Bogazkoy (Hattusha), Ugarit, Asyur dan Nuzi,
istana-istana dan kuil-kuil Zaman Besi di situs-situs Assiria (Kalhu/Nimrud,
Khorsabad, Nineveh), Babilonia (Babel), Urartu (Tushpa/Van, Kalesi, Cavustepe,
Ayanis, Armavir, Erebuni, Bastam) dan Het Baru (Karkamis, Tell Halaf,
Karatepe).
Rumah-rumah sebagian besar
diketahui dari sisa-sisa peninggalan era Babilonia Baru di Nippur dan Ur. Yang
paling menonjol dari antara sumber-sumber tertulis mengenai pendirian bangunan
dan ritual-ritual yang terkait dengannya adalah silinder-silinder Gudea dari
milenium ke-3 SM, demikian pula prasasti-prasasti kerajaan Assiria dan
Babilonia dari Zaman Besi.